Dengan Menyisihkan rizki anda Insya Allah :
Memperlancar pendidikan anak yatim atau kurang mampu. Membantu pengobatan kaum dhuafa. Menimbulkan semangat kerja. Membuat tersenyum para janda, memperlancar dakwah serta mensyiarkan Islam.
Salurkan bantuan, zakat, dan shadaqah Anda melalui rekening :
Salah satu program Fosmil yang sudah cukup lama adalah program ekonomi program ini bertujuan untuk menguatkan taraf ekonomi bagi para ustadz/zah, imam masjid dan tokoh agama khusus didaerah binaan Fosmil.
Mayoritas dari mereka adalah petani, untuk itu Fosmil menyediakan program peminjaman tambahan modal usaha pertanian bagi mereka.Program ini telah berjalan selama hampir 12 tahun.
Dari tahun ketahun program ini semakin berkembang dengan pinjaman modal mencapai lebih dari 45 juta dengan pinjaman maksimal Rp.800.000;/petani.Alhamdulillah tingkat pengembalian cukup lancar sehingga modal bisa bergulir setiap kali masa tanam.
Untuk tahun 2011 sudah tersalur pinjaman pertanian sebesar Rp. 45.600.000; tingkat pengembalian mencapai 74% dengan jumlah peminjam 58 orang. Peminjam yang belum melunasi mencapai 26 %, hal ini disebabkan belum jatuh tempo (belum panen).
Di samping program pertanian, juga digulirkan proran peminjaman modal non pertanian. Antara lain memberikan pinjaman modal kerja bagi para pencari barang bekas, modal usaha kelontong.
Selama tahun 2011 telah tersalur pinjaman sebesar Rp.40.200.000; dengan tingkat pengembalian sebesar 57,8%. Sisa pinjaman yang belum lunas,merupakan pinjaman belum jatuh tempo. (Ddk)
Ujian nasional bagi siswa kelas IX SMP dan XII SMA/SMK yang akan dilaksanakan antara bulan Maret-April pada tahun ini mengharuskan seluruh siswa dan guru untuk lebih matang dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut tak ketinggalan juga diharapkan pembayaran SPP juga dapat dilunasi sampai bulan Juni. Untuk itu divisi Sosial secara cepat mengantisipasi hal ini dengan melakukan pembayaran pelunasan SPP untuk mereka yang duduk di kelas IX dan XII dan sebagian anak asuh yang berasal dari wilayah Sragen, Sukoharjo.
Dengan pelunasan ini diharapkan konsentrasi belajar mereka akan lebih fokus dalam menghadapi ujian nasional nanti tanpa dibayangi beban pembayaran SPP lagi sehingga hasil dari ujian nasional tersebut bisa maksimal dan lulus dengan nilai memuaskan. Kami mengharapkan doa dari seluruh donatur agar mereka yang diasuh Fosmil dapat berhasil dalam studinya dan mendapatkan keberkahan manfaat dunia akhirat dari ilmu yang mereka peroleh.(ddk)
Pengalaman saat membantu bencana puting beliung 3 tahun lalu, mengilhami kami untuk terus melaksanakan program tersebut, sekalipun hanya skala kecil. Program yang kami maksud, renovasi, atau mungkin lebih tepatnya pembenahan rumah mereka, kaum papa.
Sekalipun luasnya hanya sekitar 15 M2, tetapi memang demikianlah kenyataan luas rumah mereka. Dan karena ukuran ini pula, kami berani melaksanakan “program perumahan”.
Renovasi yang dilakukan, tentu saja hanya pembenahan sesuai dengan kebutuhan paling pokok si empunya rumah. Mengganti talang, mengecat dinding, mengganti instalalsi listrik dan lain-lain yang tergolong ringan.
Biaya bagi pembenahan ini juga tidak termasuk mahal. Lebih-lebih tenaga penggarap dilakukan oleh tuan rumah sendiri dengan dibantu relawan. Hingga akhir Januari, Alhamdulillah telah diselesaikan pemberian terpal lantai 4 rumah.
Program ini akan kami kembangkan tidak hanya renovasi rumah tetapi bantuan bagi mereka kaum lansia yang butuh perhatian dalam penanganan kesehatan, lingkungan dan memberikan kekuatan mental agar mereka tidak merasa kesepian serta putus asa.(ddk)
Di awal Fosmil berdiri yaitu tahun 1998 donatur yang ada masih bersifat insidental. Kemudian pada akhir tahun 2001, kami mendapat amanah dari 19 orang donatur yang Alhamdulillah bersedia menjadi donatur tetap dengan jumlah uang sebesar Rp. 1.130.000. Pada akhir tahun Maeret 2012, donatur tetap Fosmil meningkat menjadi 390 donatur dengan jumlah Rp . 8.877.000,-.
Perlu diketahui bahwa jumlah Donatur Tetap t i ap bulannya masih bersifat fluktuatif (tiap bulan ada donatur baru dan juga ada donatur lama yang mundur, red.). Untuk Donatur insidental juga masih sangat fluktuatif.
Dalam mengambil donasi, kami dibantu oleh para kordinator donatur. Yang telah mendapatkan rekomendasi dan persetujuan Fosmil. Untuk itu kami menghaturkan Jazakumullaahu khoiron kepada para kordinator don atur instansi terkait atas kerjasamanya selama ini.
Kami juga menyampaikan permohonan maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan di hati para donatur terkait dengan kinerja para petugas donatur kami dikarenakan keterbatasan yang ada.
Amanah dari para donatur baik yang tetap maupun insidentil telah kami pergunakan dengan sebaik mungkin demi kemaslahtan umat terutama mereka kaum dhuafa. Program-program kerja Fosmil yang terbagi dalam divisi pendidikan - dakwah, sosial, ekonomi dan kesehatan tidak akan berjalan s eperti sekarang ini tan pa dukungan dari Anda semua para donatur.
Pada kesempatan ini kami juga mengajak segenap pembaca untuk bergabung dengan kami menyisihkan sebagian harta untuk membantu mereka yang membutuhkan, sekaligus membuka pintu rizqi kita. Seperti yang tersurat dalam hadits Nabi Muhammad SAW yaitu: “Tidaklah seorang hamba membuka pintu sedekah atau silaturahmi melainkan Alllah akan menambah hartanya “.
Dalam rangka memperingati HUT TBM yang ke 5 yang bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad SAW, kami mengadakan gizi bagi masyarakat sekitar Kenteng Rw 7 Semanggi setelah hampir setahun pelaksanaan gizi kami adakan diberbagai wilayah luar daerah Kenteng.Acara tersebut diadakan pada bulan Februari yang lalu dengan menu Nasi Sop ayam, telur puyuh lauk tempe, segelas susu dan paket buah, biskuat serta paket bantuan unilever antara lain pasta gigi pepsodent,sabun lux, sun light sabun cuci.Alhamdulillah diusianya ke lima ini les di TBM Kenteng masih eksis berjalan dengan jumlah peserta sebanyak 110 anak berbagai tingkat pendidikan dari TK sampai dengan SMA. Untuk kegiatan les saat ini kami terapkan kebijakan yang bersifat “mendidik” dengan dikenakan biaya pendaftaran peserta Rp. 5.000; dan iuran bulanan Rp. 2.000; untuk tiap peserta. Sehingga betul-betul tahu mana peserta yang sungguh-sungguh untuk mengikuti les atau hanya untuk sambilan.Program gizi bulan Maret kami adakan di daerah Bibis Ngemplak dan Gandekan Jebres dengan menu semangkok bubur, terik tahu dan sebutir telur dengan ditambah paket buah dan biscuit serta paket bantuan unilever seperti diatas. .(Ddk)
Bulan Februari yang lalu tepatnya tanggal 12 yang bertepatan minggu legi Fosmil mendapatkan bantuan berupa produk-poroduk Unilever sebanyak 1.000 karton yang terdiri dari beberapa item barang. Alhamdulillah bantuan tersebut bertepatan dengan bulan rabiul awal yang merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H, Fosmil mengadakan bakti sosial yang berupa pembagian gratis sabun mandi, pasta gigi, sabun hand wash cair, sabun cuci piring sunlight dan parfum rexona bagi para penarik sampah diseluruh kalurahan sekecamatan Pasar Kliwon, sebagian Kalurahan di kecamatan Serengan dan 5 Kalurahan di kecamatan Jebres.
Disamping itu, juga kami bagikan pada para ustadz/zah daerah binaan Fosmil, duafa wilayah sekitar Pasar Kliwon, Takmir Masjid, mastur hal, himpunan pengamen Jalanan, peserta gizi balita dibeberapa wilayah Surakarta. Pondok pesantren dibeberapa wilayah Jawa Tengah, anggota paguyuban pengemudi becak solo raya dan pasein Balai Pengobatan Fosmil. Kesemua itu kami bagikan secara gratis.(ddk)
Kegiatan rutin Fosmil disamping pengajian minggu legi yang diikuti seluruh jamaah Fosmil dari berbagai rayon binaan adalah rapat minggu kliwon khusus ketua-ketua rayon binaan dengan seluruh staf Fosmil. Dalam kegiatan selapan hari sekali tersebut dimaksudkan untuk koordinasi pelaksanaan program-program yang akan dijalankan maupun evaluasi program yang telah dijalankan selama ini disamping untuk mengetahui kendala-kendala dakwah dan kegiatan TPA dimasing-masing daerah binaan.
Untuk rapat minggu kliwon bulan Januari yang lalu ada hal sedikit istimewa dari hari biasanya ada salah seorang donator yang menginginkan tempat rapat diadakan disalah satu “Rumah Makan” di Solo, kami beri tanda kutip bukanlah tempat makan mewah namun rumah makan dengan menu sajian sederhana berupa nasi soto dengan harga ekonomis dan tempat representative. Ada sedikit suasana refreshing bagi ketua-ketua rayon agar tidak jenuh setelah selama setahun yang lalu sibuk mengurus jamaah didaerahnya masing-masing.
Mereka sangat antusias dan menikmati sajian sederhana tersebut, usulan- usulan dan masukan tentang program-program Fosmil banyak terlontar dari mereka.
Semoga dengan suasana berbeda dan masukan serta usulan-usulan ketua rayon dapat melahirkan inovasi-inovasi baru dalam pengembangan program-program Fosmil untuk setahun yang akan datang dalam rangka pembinaan dakwah.(ddk)(foto suasana rapat diTosoto)
Tanya : Assalamualaikum Wr Wb
Yang saya ingin tanyakan ialah berkaitan dengan sholat jumat, bagaimana dasar hukumnya? Lalu kedudukannya apakah menggugurkan sholat dluhur atau tidak? bagaimana kaitannya dengan sholat id, bila bertepatan sholat id apakah digugurkan sholat jumatnya atau tidak? Saya ingin mempelajari dasarnya dan alur logikanya dengan tepat, agar saya lebih mantap dan yakin dalam beribadat. Karena sebagian orang memahami sholat jumat tidak menggugurkan sholat dluhur karena tidak ada dasarnya. Demikian saya haturkan banyak terima kasih . Wassalamualaikum wr wb [Rizki Himawan]
Jawab
Wa'alaikumussalam.. Dalam surat Al Jumu'ah ayat 9, Allah berfirman yang kurang lebih artinya, "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli". Tentu ayat Al Qur'an ini secara terang telah menandaskan kedudukan dan dasar hukum sholat jum'at.
Tetapi jika anda ingin lebih memahami alur logika dan dasarnya secara lebih mendalam, maka kami kutipkan salah satu kitab Fiqh yang bernama Al Bajuri juz 1 hal 219, di mana dicantumkan beberapa hal berikut:
1. Dalam ayat Al qur'an tersebut di atas terdapat 'larangan' (dalam tanda petik) jual beli, padahal jual beli itu asal hukumnya adalah mubah/boleh-boleh saja. Ini berarti telah terdapat suatu larangan akan sesuatu yang sebelumnya diperbolehkan. Dan dalam logika Fiqh dicantumkan: bahwa tidak ada larangan atas sesuatu yang sebelumnya diperbolehkan kecuali dikarenakan adanya "sesuatu hal" yang mempunyai predikat hukum "wajib". "Sesuatu hal" itu tiada lain adalah sholat Jum'at. Berarti kesimpulannya: Sholat Jum'at adalah wajib.
2. Dalam riwayat Imam Ahmad ibn Hambal disebutkan bahwa Umar bin Khattab berkata, "Sholat Jum'at adalah dua rekaat sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan itu sudah sempurna, bukan merupakan sholat dhuhur yang diqashar"
Pernyataan Umar ini berikutnya menjadi salah satu bahan kajian oleh para fuqaha (Ulama Fiqh) yang kemudian pada gilirannya menimbulkan perbedaan pendapat "secara teoritis" antara apakah sholat jum'at itu pada hakekatnya merupakan sholat dhuhur yang diqashar ataukah ia merupakan sholat yang sejatinya berdiri sendiri?. "Perbedaan teoritis" seperti ini pada tahapan selanjutnya tidak menghasilkan 'perbedaan praktikal' karena semua fuqaha sepakat bahwa Sholat Jum'at bagi kaum lelaki sudah menggugurkan kewajiban sholat dhuhur. Hadist Ibnu Abbas tentang Shalat Jum'at, Rasulullah SAW bersabda , "Apabila datang waktu siang hari Jum'at maka shalatlah dua rakaat". (H.R. Dar Qutni).
Seandainya sholat dhuhur masih wajib, maka Rasulullah SAW tentu tidak memerintahkan hanya dua rakaat saja. Kemudian apa yang dilakukan Rasulullah SAW dan para shabatnya juga menunjukkan tidak ada lagi shalat dhuhur setelah shalat Jum'at, ini riwayat yang tidak terhitung jumlahnya. Jadi tidak ada dalil yang melandasi shalat dhuhur setelah shalat jum'at, karena shalat Jum'at telah mengganti shalat Dhuhur.
Akhir-akhir ini ada beberapa fatwa di masyarakat yang mengatakan bahwa setelah sholat Jum'at masih diwajibkan sholat dhuhur. Dalam hal ini hendaknya umat Islam kita hati-hati dalam masalah menjalankan ibadah, karena "al-ashlu fil ibadah al-hurmah", pada dasarnya ibadah dilarang sampai ada dalil yang memerintahkannya. Ibadah yang tidak ada landasannya yang jelas hukumnya haram dan dilarang agama.
Ada fatwa dari mazhab Hanafi yang mengatakan bahwa "mendirikan solat jum'at di tempat yang berbeda-beda dan di masjid yang lebih dari satu, tetap sah walaupun dilaksanakan dalam waktu yang tidak bersamaan. Namun hal tersebut harus diyakini oleh peserta salat jum'at bahwa masjidnya lah yang paling dulu mendirikan salat jum'at. Kalau dia tahu bahwa masjid yang lain mendahuluinya, maka wajib baginya untuk mendirikan salat duhur. Apabila ia ragu-ragu apakah masjidnya yang dahulu atau yang lain, maka disunnahkan kepadanya untuk mendirikan salat dhuhur. Namun sebaiknya mendirikan salat dhuhur tersebut di kediaman, bukan di masjid umum, agar tidak dinilai orang sebagai hal yang wajib".
3. Kemudian dengan point pertanyaan anda, apakah jika sholat jum'at bertepatan dengan Id maka sholat jum'atnya boleh ditinggalkan?
Sebelumnya saya ingin menjelaskan dulu bagaimana keadaan masjid pada zaman Rasulullah. Pada zaman beliau masjid jami` (masjid besar yang digunakan untuk shalat jum`at) hanya ada di pusat kota Makkah/Madinah, sedangkan yang di desa-desa/pedalaman hanya ada masjid-masjid kecil, atau sering disebut musholla, yang tidak mampu menampung jumlah besar jamaah yang datang untuk shalat jum`at atau shalat Ied.
Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di desa/pedalaman bila ingin melaksanakan shalat Jum`at atau Ied, mereka pergi ke masjid besar, atau yang sering disebut masjid jami'. Mereka memerlukan perjalanan yang cukup meletihkan untuk pergi ke masjid jami` tersebut.
Suatu ketika hari raya bertepatan jatuh pada hari jum`at. Ini yang menyebabkan orang-orang yang tinggal di desa merasa kerepotan, karena harus pergi ke masjid jami' dua kali dalam sehari, padahal perjalanan yang ditempuh terkadang cukup jauh. Bila mereka harus menunggu di masjid sampai waktu jum`at, tentu itu terlalu lama bagi mereka. Meskipun begitu sebagian sahabat yang dari pedalaman, ada yang berusaha menunggu di masjid jami' sampai datangnya waktu jum`at. Sebagian lain ada yang kembali ke desa dan kembali lagi waktu shalat Jum'at. Melihat keadaan yang seperti ini, Rasulullah berkata dalam suatu hadist sahih, yang diriwayatkan `Utsman r.a. , : "Barang siapa (dari penduduk pegunungan/pedesaan) yang ingin melaksanakan shalat jum`at bersama kami maka shalatlah, dan barang siapa yang ingin kembali maka kembalilah.”
Adapun pendapat Ulama` dalam kasus ini sebagai berikut :
(1). Syafi`iyah mengatakan shalat jum`at tetap wajib bagi penduduk kota/sekitar masjid, sedangkan bagi penduduk desa/pedalaman shalat jum`atnya gugur/tidak wajib, berdasarkan hadist di atas.
(2). Malikiyah, Hanafiyah, dan Dhahiriyah mengatakan tidak ada perubahan hukum dalam masalah ini, yaitu wajib melaksanakan shalat Jum`at bagi setiap mukallaf (baik penduduk desa/kota), dan sunnah melaksanakan shalat Ied. Jadi, jika hari raya jatuh pada hari Jum'at, maka bagi kaum Muslimin yang telah melaksanakan shalat Ied, mendapatkan kelonggaran untuk tidak mengikuti shalat Jum'at. Namun bagi yang ingin mengikuti shalat Jum'at pun tetap sah dan disunnahkan.
Sedangkan bagi imam Masjid, untuk tetap mendirikan shalat Jum'at untuk memberikan kesempatan bagi kaum Muslimin yang tidak sempat mengikuti shalat Ied atau ingin menunaikan shalat Jum'at. Hal ini didasarkan pada Sabda rasulullah SAW yang artinya, "Nabi melakukan shalat Ied dan memberi keringanan dalam shalat Jum'at, beliau bersabda: 'Barangsiapa ingin shalat Jum'at, maka shalatlah. Dan sesungguhnya kita telah berjama'ah (fa inna mujammi`un)'." (H.R. Turmudzi) Wallahu A'lam bissowab. Wassalam. [Ahmad Nadhif dkk.]
Seseorang datang menemui Rasulullah SAW dan bertanya, “Beritahukan kepadaku suatu amal yang bila kukerjakan, aku masuk surga”. Beliau menjawab, “Jadilah orang yang baik”.
Si penanya masih meminta penjelasan, “Bagaimana aku dapat mengetahui bahwa aku termasuk orang-orang yang baik?”. Rasulullah SAW menjelaskan, “Tanyakanlah kepada para tetanggamu. Jika mereka mengatakan kamu baik maka kamu termasuk orang yang baik. Dan jika mereka mengatakan kamu tidak baik maka kamu termasuk orang yang tidak baik”.
Sebagai ajaran yang sempurna, Islam telah menjelaskan berbagai aturan yang menyangkut hubungan antara sesama manusia. Satu dari sekian yang mendapatkan penekanan adalah masa;lah tetangga.
Dalam hadist di atas, Nabi SAW menjadikan tetangga sebagai penilai baik tidaknya seseorang. Dalam sabdanya yang lain, hubungan dengan tetangga menjadi penilaian keimanan seseorang. “Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam dengan kenyang, sementara tetangganya lapar, padahal dia mengetahui hal itu”.
Allah SWT secara langsung di dalam Al-Quran juga mengingatkan mengenai hubungan baik dengan tetangga ( QS 4 ; 36 ). Rasulullah SAW juga bersabda, “Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku mengenai tetangga sampai-sampai aku mengira bahwa dia akan menjadikan tetangga sebagai ahli waris”.
Dalam kesempatan lain, beliau menguraikan hak tetangga, “Hak tetangga ialah bila dia sakit kamu kunjungi. Bila wafat kamu mengantar jenaszahnya. Bila dia membutuhkan uang, kamu pinjami. Bila dia mengalami kemiskinan (kesukaran), kamu bantu. Bila dia memperoleh kebaikan, kamu mengucapkan selamat kepadanya.
Bila dia mengalami musibah, kamu datangi untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah meninggikan bangunan rumahmu, melebihi bangunan rumahnya yang dapat menutup kelancaran angin baginya. Dan jangan kamu mengganggunya dengan bau periuk masakan, kecuali kamu memberikan untuknya”.
Yang patut untuk diingat, dalambanyak hadis, Nabi SAW menyebutkan kata tetangga tanpa membatasi khusus yang muslim. Sekalipun demikian, jelas tetangga yang muslim dan mempunyai hubungan darah, tetap memiliki perbedaan khusus dengan tetangga yang non muslim.
Selain menjelaskan mengenai berbagai kewajiban antar tetangga, dalam beberapa hadisnya, Nabi SAW juga mengingatkan mengenai “Bahaya” tetangga yang tidak baik. Bahkan lebih dari itu, dalam sebuah doanya, beliau berlindung dari tetangga yang jelek.
Dalam hadis yang lain, tetangga yang jelek disebutkan sebagai musibah yang membinasakan. Yaitu tetangga yang bila melihat kebaikan tetangganya hanya diam,namun bila melihat keburukan ia sebar luaskan.
Yang tak kalah penting, lingkungan tetangga di mana kita berada akan mempengaruhi akhlak seisi rumah kita. Nabi SAW juga pernah bersabda mengingatkan, “Pilihlah tetangga (lihat calon tetangga atau lingkungannya dulu) sebelum memilih rumah”.
Karena berbagai alasan di atas, menjadi kewajiban kita semua untuk membentuk sebuah lingkungan tetangga yang rukun, tenteram dan Islami. Dan bila itu terwujud, sama saja dengan kita membentuk keluarga yang bahagia. Rasulullah SAW juga menyebutkan bahwa di antara kebahagiaan seorang muslim adalah bila mempunyai tetangga yang saleh.
Tak mudah untuk merealisasikannya, namun setidaknya kewajiban untuk bersifat dan bersifat baik kepada semua tetangga harus kita upayakan semaksimal mungkin.
Dan yang patut kita renungkan, apa jawaban para tetangga kita, bila seseorang bertanya mengenai diri atau keluarga kita? Padahal sesuai hadis Nabi SAW di atas, jawaban merekalah yang menjadi salah satu alat penilai baik tidaknya, bahkan keimanan diri dan keluarga kita.[ Sumber Mimbar Jum'at HU Solo Pos 8/10/10 ]
Hudzaifah r.a. menceritakan hadis berikut : “Pada suatu hari Rasulullah SAW, berdiri di antara kami pada suatu tempat, tiada suatu peristiwa pun beliau tinggalkan sejak saat itu hingga hari kiamat, melainkan beliau ceritakan. Diantara kami ada orang-orang yang masih mengingatnya dan ada pula yang telah melupakannya. Sesungguhnya semua temanku itu telah mengetahuinya dan sesungguhnya ada suatu kisah daripadanya yang kulupakan. Tetapi ketika aku melihat kejadiannya, aku menjadi ingat kembali, sebagaimana seseorang mengingat wajah temannya yang telah lama pergi darinya, kemudian bila ia melihatnya, maka ia langsung mengenalnya.” (Riwayat Tsalatsah)
Syarah :Muslim mengetengahkan hadis ini dalam bab yang sama, begitu pula Abu Daud, tetapi Bukhari mengetengahkannya di dalam Bab Permulaan Kejadian.
Hudzaifah r.a. menceritakan hadis berikut : “Ia telah mengatakan, “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang benar-benar paling mengetahui tentang fitnah yang akan terjadi pada zamanku sekarang ini hingga hari kiamat, karena tiada lain kecuali Rasulullah SAW, telah membicarakannya kepadaku secara rahasia mengenai suatu hal yang tidak pernah beliau ceritakan kepada selainku. Dalam suatu majelis Rasulullah SAW, pernah menceritakan kepada kmi mengenai fitnah-fitnah yang akan terjadi. Beliau SAW menghitung-hitungnya lalu bersabda, “Di antara fitnah-fitnah itu terdapat tiga perkara, yang ketiganya tidak akan membiarkan sesuatu pun (melainkan membasminya). Dan di antaranya terdapat fitnah-fitnah yang bgaiakan angin musim kemarau, di antaranya ada yang kecil dan ada pula yang besar.” Hudzaifah mengatakan, “Tetapi golongan itu yang mendengar langsung dari beliau SAW, semuanya telah tiada selain aku sendiri (yang masih hidup).”
Syarah : Lam yuhadditshu ghairi, beliau tidak pernah menceritakannya selain kepadaku, sebagaimana yang beliau khususkan buat diriku mengenai orang-orang munafik.
Amr ibn Akhthab r.a. menceritakan hadis berikut : Nabi SAW salat subuh bersama kami, setelah itu beliau menaiki mimbar, lalu berkhotbah kepada kami hingga waktu dhuhur tiba. Beliau turun, lalu shoilat dhuhur, setelah itu beliau menaiki mimbar lagi dan berkhotbah kepada kami hingga waktu asar tiba. Beliau turun, lalu solat asar, setelah itu beliau menaiki mimbar lagi dan berkhotbah kepada kami hingga matahari tenggelam. Dalam semua khotbahnya Nabi SAW memberitakan kepada kami tentang semua yang terjadi di masa itu dan masa mendatang, orang yang paling alim di antara kami (mengenai khotbahnya itu) adalah orang yang paling hafal (mengenainya).
Syarah : 'Amribnu Akhthab r.a. nama julukannya ialah Abu Zaid. Hingga matahri terbenam, maksudnya hampir terbenam. Hal di atas kebanyakan terjadi ketika Rasulullah SAW mendekati masa kewafatannya, yaitu pada tahun ketika beliau wafat.
Abu Hurairah r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, dunia tidak akan lenyap (kiamat) sebelum datang atas manusia suatu masa di mana orang yang membunuh tidak mengetahui kenapa ia membunuh, dan orang yang dibunuh tidak mengetahui pula mengapa ia dibunuh. Lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi?” Nabi SAW menjawab, “Hal itu terjadi karena timbulnya kekacauan; orang yang membunuh dan orang yang dibunuh semuanya masuk neraka.”
Syarah : Al-Harj, yang demikian itu terjadi karena timbulnya kekacauan, yakni karena banyaknya fitnah dan pembunuhan.
Abu hurairah r.a. menceritakan pula hadis berikut, bahwa Nabi SAW pernah bersabda ; Yang dinamakan paceklik bukanlah karena kalian tidak diberi hujan, melainkan paceklik itu ialah diberi hujan dan diberi hujan, tetapi tanah kalian tidak dapat menumbuhkan sesuatu pun.” (Hadis ini dan hadis sebelumnya diriwayatkan oleh Muslim)
Syarah : Paceklik dan kelaparan serta fitnah-fitnah itu bukan karena langkanya hujan melainkan karena tanah tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan lagi.
Hudzaifah r.a. menceritakan hadis berikut : “Demi Allah, aku tidak mengetahui apakah teman-temanku lupa atau mereka pura-pura lupa. Demi Allah, Rasulullah SAW tidak meninggalkan kisah seorang pemimpin fitnah pun hingga usia dunia habis (kiamat) yang jumlah pengikut masing-masing terdiri atas tiga ratus orang lebih, melainkan beliau menceritakan kepada kami tentang namanya, nama ayahnya, dan nama kabilahnya.”
Syarah : Nabi SAW menggambarkan kepada kami dengan gambaran yang vterinci dan jelas mengenai masing-masing dari pemimpin fitnah tersebut, mulai dari masa itu hingga hari kiamat nanti.
Abdullah ibnu Mas'ud r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa nabi SAW pernah bersabda, “Kelak akan terjadi empat macam fitnah di kalangan umat ini dan fitnah yang paling terakhir ialah kemusnahan umat ini.” (Hadis ini dan hadis sebelumnya riwayat Abu Daud )
Syarah : Arba'u fitanin, empat macam fitnah, yakni fitnah yang besar-besar.
Dalam riwayat Thabrani disebutkan, kelak akan terjadi empat macam fitnah; Yang pertama di dalamnya dihalalkan darah, yang kedua dihalalkan di dalamnya darah dan harta, yang ketiga dihalalkan di dalamnya darah, harta benda, dan kemaluan; dan yang terakhir atau yang keempat ialah fitnah dajjal.
Hudzaifah r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, kiamat tidak akan terjadi sebelum kalian (berani) membunuh Imam (pemimpin) kalian, dan kalian saling memukul di antara sesama kalian dengan pedang-pedang kalian, dan harta dunia kalian diwarisi oleh orang-orang jahat di antara kalian.” (Riwayat Turmudzi dengan sanad berpredikat hasan)
Syarah : Tajtaliduu, saling memukul di antara sesama kalian, maksudnya saling membunuh di antara sesama kalian. (Sumber : Kitab At-Taj Mahkota Pokok-Pokok Hadis Rasulullah SAW )
Poro muslimin ingkang minulyo!
Monggo poro muslimin ingkang minulyo, kito minongko titah manungso ingkang gesangipun tansah ambetahaken rahmat taufiq soho hidayah saking ngarsaning Allah SWT. Kerso tansah ngatingalaken taqwa kito dumateng Allah wonten ing sedoyo wekdal lan kawontenan.
Tegesipun saksaged-sagedipun kito tansah nindakaken dhawuhipun Allah SWT sarto nebihi pepacuhipun.
Poro muslimin ingkang minulyo!
Kito sami yakin bilih kanthi taqwa dateng Allah, gesang kito badhe dipun ridhani dening Allah SWT, badhe pikantuk kesenengan ingkang sejati wiwit donya dumugining akhirat.
Sebab poro muslimin ingkang minulyo!
Allah SWT sampun ngendiko, “Satemene tumrap wong-wong kang podo taqwa marang Allah yoiku sebecik-becik papan bali”.(QS.Shood : 49 )
Dipun sebataken wonten ing ayat sanes, “Lan podho mengertio kowe kabeh, saktemene Allah iku nyertani wong-wong kang podho taqwa”. (QS.Al Baqoroh : 149 )
Poro muslimin ingkang minulyo!
Menawi kito satitekaken kanthi saestu, kawontenaning gesang lan panggesanganning manungso ing ngalam ndonya puniko, menawi dipun tingali saking segi kamanungsan, kengin kito tembungaken “Manungso badhe tetep kawastanan manungso, menawi piyambakipun saged ngajeni badanipun minongko manungso”. Tegesipun, menawi umat manungso puniko kepeningin gesang bahagia sentosa lan mulyo kedah njagi badanipun sampun ngantos tumindak ingkang nyebabaken pribadinipun asor menggahing masyarakat, ingkang ateges mrosot ugi menggahing Allah SWT.
Poro muslimin ingkang minulyo!
Saweneh saking sifat ingkang nyebabaken pribadi dados mrosot, inggih puniko kathah sanget kadosto; raos iri, panasten, hasud, ujub lan sifat takabbur utawi gemedhe.
Sejatosipun poro sedherek. Allah mboten ngawasi kito manungso ingkang sae-sae, ngagem ageman ingkang sae, griyo ingkang sae, ingkang indah, malah kito dipun kengingaken ngangge wangen-wangen. Nanging ingkang dipun awisi dening Allah inggih puniko watak gumedhe utawi takabur ingkang tumanen wonten ing dhodho kito.
Kados ingkang kasebat wonten ing surat Al-A'rof, bilih Allah dawuh : “He anak turune Adam, podho nganggoa pepaesmu ing nalikane arep menyang masjid”. (QS. Al-A'rof :31)
Tegesipun dados ingkang saksae-saenipun menawi badhe tindak dateng masjid.
Adhedhasar ayat puniko, terang Allah bilih Allah mboten ngawisi kito umat manungso macak mangangge ingkang saksae-saenipun, malah mengangge ingkang sae puniko dipun anjuraken manawi badhe dateng masjid, asal mboten dipun ngetingalaken sifat sombong lan sifat takabbur.
Kito kenging anggadhahi griyo ingkang modern, ingkang susun pisan, nanging sampun ngantos griyo ingkang sae puniko njalari kito dados takabbur.
Mekaten ugi uapami kito dipun paringi dening Allah SWT ngelmu ingkang kathah, kamulyan, pangkat, kalenggahan lan sanes sanesipun, sampun ngantos sedoyo puniko nyebabaken kito dados takabbur, lupa dharatan lan kasupen dateng Allah SWT.
Kasebat wonten satunggaling Ayat, “Andap asora siro Muhammad, ojo umuk tumanduk marang pengikut-pengikutmu kang mukmin”.(QS. Asyu'aro; 215)
Nabi kito Muhammad SAW, minongko pemimpin umat dipun paringi pitedah dening Allah SWT kanthi pangandikanipun, “Upomo kowe Muhammad tumindak olo lan kasar, mesthi wong-wong mau bakal ngedohi soko kowe”.(QS.Al-Imron : 159 )
Ingakng maksudipun poro sedherek; kanthi tembung sanes, “He Muhammad, yen kowe kepengin sukses ing perjuangan ojo pisan-pisan takabbur”.
Sanes ayat nyebataken, “Saktemene Allah ora rena marang sakabehe wong kang umuk lan mbanggakake awake”.(QS. An-Nisa; 36 )
Poro muslimin ingkang minulyo!
Saking ayat-ayat ingkang sampun kulo waos kolo wau, jelas bilih sifat umuk utawi gemedhe puniko kalebet tumindak utawi lampah ingkang mboten dipun ridhani deneng Allah SWT.
Sebab poro sedherek muslim ingkang minulyo!
Jalaran asring nyebabaken manungso mboten purun ngglape dateng tiyang sanes, ngantos mboten enget malih dateng kepentingan lan kebetahaning tiyang sanes, amargi ingkang tansah dipun enget-enget namung kepentinganipun piyambak.
Kasebat wonten ing hadits ingkang dipun riwayataken dening imam Muslim, bilih Nabi Muhammad SAW, nate ngendiko, “Kibir utawi takabbur iku biso nyebabaken wong dadi nampik kebeneran lan nyepelekake marang sapodho-podho manungso”. (Muslim)
Poro muslimin ingkang minulyo!
Sanadyan kados pundi punopo saening nasehatipun tiyang sanes, jalaran piyambakipun takabbur milo mboten purun mirengaken.
Amargi rumangsanipun, pribadinipun sae piyambak, milo ingkang ketingal wonten ing pikiranipun namung cacat ing tiyang sanes, mboten nyumerepi dateng cacatipun piyambak.
Puniko poro muslimin ingkang minulyo!
Sedoyo-doyonipun saking akibat ingkang dipun dhorong dening pengaruh saking sifat umuk kolowau, ingkang nyebabaken manahipun asring mboten saged nampi keleresan.
Poro muslimin ingkang minulyo!
Jalaran takabbur ugi asring tiyang dados gampil nyerupekaken dateng kewajiban, malah jalaran takabbur ugi asring mengaruhi jiwanipun tiyang ingkang ngibadah dados mboten khusyu', jalaran manahipun tansah mboten tentrem, mboten saged anteng babar pisan, jalarang ingkang katingal wonten ing pikiranipun namung kepengin nyepelekaken dateng sesami, akhiripun tuwuh gragas, malak lan tamak.
Pungkasanipun jiwo dados bobrok, angel dipun jampeni, ingkang akhiripun mboten kenal kesopanan, malahanobah mosikipun sarwo umuk.
Puniko sedoyp poro muslimin; akibat ingkang dipun timbulaken dening pengaruh sifat takabbur.
Ing mongko Allah SWT sampun ngendiko; “Lan didadekake manungso iku makhluk kang apes”. (QS. An-Nisa; 28)
Mboten salamanipun kito manungso gagah, saras, seger kuwarasan terus, nanging tentu ngraosaken ugi nandang sakit, kadang-kadang sakitipun sampun saras lan jeng nangis, anggetuni tumindakipun, anggetuni sanak sadherekipun, akhiripun pejah.
Sanadyan kados pundi kemawon kito manusngso takabbur sadhuwur langit, akhiripun toh manungso badhe pejah, berkalang tanah, pisah kalian famili, sanak sedherek.
Pramilo saking meniko, poro muslimin ingkang minulyo.
Mboten samesthinipun menawi kito manungso puniko takabbur wonten ing sedoyo lampahipun, sebab sanginggilipun wonten dzat ingkang Moho Sempurno, inggih puniko Allah SWT, sainggo gesang lan pejahing manngso puniko wonten ing astaning Allah SWT.
Sepindah malih, panci sifat kibir (takabbur) puniko namung keagunganipun Allah SWT. Kados ingkang dipun sebat dening As-Syaikh Al Imam Al Ajal Ustadz Ruknul Islam, wonten syi'iripun ingkang dipun sitir wonten kitab Ta'limul Muta'alim.
“Kibir meniko setunggaling sifat ingkang khusus kagunganipun Allah, pramilo kedah kito tebihi lan kito supados taqwa (ajrih dateng Allah).
Akhirul kalam, mugi-mugi Allah SWT tansah paring rahmat dateng kito sedoyo, nyucekaken badan kito saking sifat takabbur, hinggo manah kito dados bersih, nuwuhake amalan ingkang suci, gesang wilujeng wiwit donya dumugining akhirat……amin
Ma'asyiral muslimin arsyadakumullah ...
Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Ta'ala yang telah memberikan taufiq serta hidayahNya, sehingga kita masih dalam keadaan Iman dan Islam...
Selanjutnya, dari atas mimbar Jum'ah ini, saya wasiatkan kepada diri saya berikut jama'ah sekalian, Marilah,- dari sisa-sisa waktu yang Allah berikan ini, kita gunakan untuk selalu mening-katkan ketaqwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu memper-hatikan syariat Allah, kita aplikasikan dalam setiap derap langkah hidup kita hingga akhir hayat. Baik berhubungan dengan hal-hal yang wajib, sunnah, haram, makruh, maupun yang mubah.
Karena, dengan ukuran inilah prestasi seorang manusia dinilai dihadapan Allah. Suatu ketika Umar Ibnul Khaththab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab tentang gambaran taqwa itu. Lalu ia menjawab dengan nada bertanya: “Bagaimana jika engkau melewati jalan yang penuh onak dan duri?” Jawab Umar. “Tentu aku bersiap-siap dan hati-hati” Itulah taqwa, kata Ubay bin Ka'ab
Ma'asyiral muslimin, jama'ah Jum'ah rahimakumullah
Telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. Dalam hal ini
Allah berfirman di dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 13, artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Disebutkan dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya.
Al-Hafifzh Ibnu Katsir menambahkan : “Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlahnya”
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: “Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.”
Ma'asyiral muslimin jama'ah Jum'ah rahimakumullah ...
Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa dikem-bangkan. Darinya pula muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk teknologi yang mereka temukan.
Namun, kalau kita renungkan semua itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” hidup seorang manusia.
Ma'asyiral muslimin, jama'ah Jum'ah rahimakumullah ...
Tak pelak dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga, bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa lebih baik dan harus diikuti (baca: ditakuti) oleh negara yang lain. Orang kaya merasa lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai “kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyu-ruh (memaksa)-nya untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.
Ma'asyiral Muslimin, Jama'ah Jum'ah rahikumullah ...
Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau maksiat. Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.
Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak punyak hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali kembali kepada syariat agama Allah.
Karena minimnya ilmu syar'i itulah yang menyebabkan banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke lumpur dosa. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau malah bangga dengan “amal dosa” itu, na'udzubillah. Renungkanlah syair seorang tabi'in Abdullah Ibnul Mubarak: “Aku lihat perbuatan dosa itu mematikan hati, membiasakannya akan mendatangkan kehinaan. Sedang meninggalkan dosa itu menghidupkan hati, dan baik bagi diri(mu) bila meninggalkannya”
Prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun, taqiyyun, karimun (baik, taqwa, mulia!) Ataukah prestasi fajirun, syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat, celaka, hina) Dalam hal mana? Yaitu sejauh mana kita menyikapi ajaran Allah dan RasulNya. Perhatikanlah wasiat Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap ada sehari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”
Ma'asyiral muslimin, jama'ah Jum'ah rahimakumullah ..
Sudah berapa umur kita yang berlalu begitu saja ..
Sudah berapa amal taat yang telah kita kumpulkan sebagai investasi di sisi Allah ..
Sudah berapa pula, amal maksiat yang telah kita lakukan yang menyebabkan kita (nantinya) terseret kedalam Neraka ..
Marilah, segera bertobat untuk 'mengukir” dengan amal taat terhadap Allah dan Rasulnya.
Umat Islam (termasuk saya dan jama'ah sekalian) telah diberi hidayah berupa Al-Qur'an (dan As-Sunnah). Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam menerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk zhalimun linafsih, muqtashid, atau saabiqun bil khairat bi idznillah.
Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan pengertiannya masing-masing sebagai berikut:
Zhalimun linafsihi: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang)
Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh.
Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan yang sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah (karena wara'nya)
Tak seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk mendekam dalam penjara. Apalagi penjara Allah yang berupa siksa api Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Tetapi semua itu terpulang kepada kita masing-masing. Kalau kita tidak mempedulikan syari'at Allah, tidak mustahil kita akan mendekam di dalamnya. Na'udzu billah. Itulah ujian Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasul SAW, “(Jalan) menuju Jannah itu penuh dengan sesuatu yang tidak disukai manusia, dan (jalan) Neraka itu dilingkupi sesuatu yang disukai oleh syahwat”
Semoga Allah mengumpulkan kita dalam umatNya yang terbaik dan terjauhkan dari ketergelinciran ke dalam jurang kemaksiatan. Amin
‘Apa tujuan hidup di dunia ini?''
Pertanyaan yang terus berkecamuk dalam hati Abdul Raheem Green itu telah mengantarkannya pada sebuah pencarian spiritual. Bagi sebagian orang, manusia hidup untuk menjadi kaya. Namun, Green tahu itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.
''Benarkah menjadi kaya akan membuat seorang bahagia?'' tanyanya dalam hati.
Ternyata kekayaan tak berbanding lurus dengan kebahagiaan. Banyak orang kaya di dunia ini, tapi mereka tak merasakan kebahagiaan. Tak mudah bagi Green untuk menemukan jawaban tentang tujuan hidup di dunia ini.
Ia mencari jawaban atas pertanyaannya melalui jalur spiritual. Ia sempat berganti-ganti agama untuk mendapatkan jawabannya. Namun, beberapa agama yang sempat disinggahinya tak mampu memberikan jawaban. Di akhir pencariaannya, ia berkenalan dengan Islam.
Hati Green pun terpikat kepada Islam. Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu mampu memberinya jawaban atas pertanyaan yang selalu mengusik kehidupannya. Lantas bagaimanakah Islam menjawab pertanyaan seorang pria bernama Green?
Green terlahir dalam sebuah keluarga yang menganut Katholik Roma. Keluarganya sangat patuh terhadap ajaran agama. Ayahnya seorang tentara dan ibunya adalah seorang polisi di salah satu kota di Inggris.
Kedua orangtuanya bersepakat untuk membesarkan buah hatinya dengan agama nilai-nilai agama. Mereka memasukkan Green ke sekolah asrama Katholik. Sekolah asrama itu cukup terkenal di Inggris. Green pun cukup senang belajar di sekolah tersebut.
Selain menimba pelajaran umum, Green dan murid-murid lainnya harus mengikuti pelajaran, agama seperti membaca Alkitab dan sejarah-sejarah Kristen. Awalnya, tidak ada masalah yang berarti bagi Green ketika belajar di sekolah asrama Katholik itu. Semua mulai berubah, ketika ia berpikir tentang Tuhannya, Yesus.
Green berpendapat sosok Tuhan tidak mungkin bisa mati. Ia juga berpikir bagaimana mungkin seorang Tuhan memiliki seorang ibu. “Kalau Tuhan memiliki ibu, maka ibunya adalah Tuhan dari Tuhan,” pikirnya. Hal ini mengganjal terus hingga ia dewasa.
Ia tidak dapat menerima kenyataan itu. Lalu, Green berusaha mencari tahu mengapa Tuhan memiliki seorang ibu. Akan tetapi, ia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Orang-orang yang ia tanya tidak dapat menjawabnya.
Mereka hanya meminta Green untuk mempercayai dan mendengarkan apa yang diajarkan padanya. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Green tidak mau menyerah. ''Apabila orang lain tidak dapat menjawabnya, maka aku akan mencari sendiri jawabannya,'' ujar Green
Ketika usianya semakin beranjak dewasa, pertanyaan lain muncul dalam hidupnya. ''Apakah yang menjadi tujuan dalam hidup ini? Apakah hidup itu hanya seperti memiliki pekerjaan bagus, hidup yang normal dan indah serta uang yang banyak? Apakah kehidupan itu seperti itu? Lalu bagaimana dengan kematian?''
Karena tidak menemukan jawabannya dalam Katolik yang dianutnya sejak lahir, Green mencoba mencarinya dalam agama Buddha. Ia mencari tentang kehidupan di agama Shidarta Gautama itu.
Buddha mengajarkan bahwa hidup itu adalah penderitaan. Manusia harus mencari jalan keluar sendiri untuk melepaskan diri dari penderitaan dan mencapai nirwana. Green merasa hal ini tidaklah sesuai dengan hatinya. Memang, ia menemukan banyak ajaran-ajaran baik dalam Buddha.
Tapi kalau hidup yang penuh penderitaan? Green harus berpikir ulang. Ajaran Buddha tidak lagi membuat perasaannya tenang dan Green tidak menemukan jawaban dari pertanyaan fundamentalnya: ''Mengapa manusia ada di bumi?''
Tak puas dengan apa yang ia dapatkan di ajaran agama lain, Green sempat memutuskan untuk membuat agamanya sendiri. Ia mengombinasikan agama-agama dan filosofi yang ia pelajari selama ini menjadi satu dan membuatnya menjadi 'agama Green'.
“Dan masa-masa itu menjadi pengalaman spiritual terburuk dalam hidup saya,” kenangnya.
Sempat ia hampir menerima kenyataan bahwa tujuan dalam hidup ini hanyalah mencari uang dan menumpuk kekayaan. Masalahnya, Green bukanlah kaya dan dia belum cukup kaya untuk mencapai 'tujuan hidup' yang ia maksud. Ia harus banyak belajar dari orang-orang yang bisa menghasilkan banyak uang.
Ia mengetahui orang Arab sangatlah kaya karena minyak yang dihasilkannya. “Mereka tinggal mengatakan Allahuakbar, lalu uang muncul di depan mereka. Semudah itu,” kata dia.
Terpikir pula olehnya agama yang dianut orang-orang Arab, yakni Islam. Agama ini belum pernah disentuh Green sebelumnya. Karena penasaran, akhirnya Green mempelajari terlebih dahulu agama yang berasal dari Timur Tengah ini, sebelum ia memutuskan untuk menjadi kaya.
Green membeli sebuah terjemahan Alquran di toko buku dan membacanya. Green membacanya berkali-kali dan menemukan ada yang tidak biasa dalam buku tersebut. Green merasa buku ini tidak ditulis oleh sembarang orang. Dari situ Green mulai mempelajari tentang Islam.
Perlahan-lahan ia mulai menyadari bahwa Islam adalah agama yang menjawab semua pertanyaannya. Islam memberinya pedoman dalam kehidupan dan memberikan cahaya pada setiap jalan yang ia tempuh.
Islam juga menjawab pertanyaan Green mengenai Tuhan. Tuhan adalah satu dan ia tidak memiliki ibu juga tidak mati. Tuhan adalah pencipta seluruh alam dan melalui para nabi Tuhan menyampaikan apa yang perlu manusia lakukan di dunia dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.
“Saya menyadari buku ini berasal dari Tuhan. Dia telah memberikan jawaban atas pertanyaan saya selama ini.” Ia juga menemukan jawaban atas tujuan hidup di dunia ini, yakni untuk beribadah dan menyembang Sang Khalik, demi mendapat kehidupan yang abadi di Hari Akhir. Kini, Green berkhidmat dalam Islam. Ia mempelajari Islam dan menyebarkannya. Dakwah adalah jalan hidupnya. [rep]
REPUBLIKA.CO.ID, Pada masa mudanya, Nu'aim bin Mas'ud adalah seorang yang mahir dalam segala bidang. Ia terlahir dari sebuah keluarga saudagar yang cukup makmur di Nejed, kota kecil di pinggiran Makkah.
Nu'aim terlahir sebagai seorang suku Ghathafan dari keluarga yang terpandang. Di usia muda, ia cukup sering berdagang dari Makkah ke Madinah. Namun, dari kegiatan itulah ia pun menjadi tahu akan hal-hal yang menyangkut kemaksiatan dan kesenangan di kota itu.
Dengan pemahamannya yang cukup akan kesenangan yang ditawarkan Madinah, ia menjadi seorang yang cukup sering pergi ke kota itu demi mencari kesenangan dunia yang ditawarkan oleh kaum Yahudi di sana, terutama Bani Quraizhah. Oleh sebab itu, ia sangat dikenal oleh orang-orang di Madinah. Dan mereka pun menyukai Nu'aim.
Pada saat itu, Nu'aim tidak ambil pusing dengan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Saat Rasulullah dan para sahabatnya memulai hijrah ke Madinah, barulah Nu'aim merasa terganggu dan terusik.
Ketika kaum Yahudi Bani Nadhiryakni kaum Yahudi dari sekitar Madinahmulai bergerak dan memprovokasi kaum Quraisy di Makkah dan di Nejed untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya di Madinah, dengan segera bani Ghathafan di Nejed menyambut baik usulan tersebut.
Saat itu, Nu'aim termasuk salah satu tokoh Bani Ghathafan yang ikut dalam pasukan Bani Ghathafan di bawah kepemimpinan Uyaynah bin Hishn Al-Ghethfan. Selain membujuk kaum Quraisy di Makkah dan Bani Ghathafan di Nejed, para Yahudi Bani Nadhir juga mengompori suku Yahudi yang tinggal di Madinah, yakni Bani Quraidzah.
Saat itu Bani Quraidzah menolak usulan Bani Nadhir, karena mereka terikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Namun, para pemimpin Bani Nadhir pandai merayu Bani Quraizhah agar membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak. "Kali ini Muhammad pasti kalah," kata mereka. Bani Quraizhah pun manut saja.
Berita tentang datangnya ribuan pasukan dari arah Makkah dan tentang pemutusan perjanjian sepihak oleh Bani Quraidzah segera terdengar dengan cepat ke Madinah. Orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin mulai membuka kedok.
Banyak dari mereka dengan terang-terangan meninggalkan Madinah dengan alasan takut akan hal buruk yang tiba-tiba menimpa keluarga mereka jika mendadak Bani Quraidzah menyerang. Sampai saat itu, jumlah kaum Muslimin yang siap mempertahankan Kota Madinah hanya sekitar 900 orang prajurit.
Sampai pada suatu malam, setelah kira-kira 20 hari dalam pengepungan, Rasulullah SAW berdoa, mengadu kepada Allah dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu sesuai dengan apa yang Engkau Janjikan.”
Sementara itu, jauh dari tempat Nabi SAW bermunajat, seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu'aim bin Mas'ud, tengah berbaring dalam tendanya dengan gelisah. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. Namun, dalam hatinya ia merasa bersalah.
"Sungguh, alangkah bodohnya diriku. Selama ini, hidupku dipenuhi dengan kesenangan yang menipu dan kegembiraan sesaat. Namun, mengapa kini aku melawan Muhammad yang katanya bisa mengajarkan kehidupan yang dipenuhi ketenteraman yang abadi? Bukankah aku tetap tidak ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?” Nu'aim mendapat hidayah Allah SWT.
Malam itu juga, ia memacu kudanya dan menuju ke dekat kota Madinah. Sesampainya di sana, ia meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah saw bukan sebagai musuh.
Ketika Rasulullah melihatnya Nu'aim berdiri di hadapannya, beliau bertanya, "Engkau Nu'aim bin Mas'ud?"
"Betul, wahai Rasulullah," jawab Nu'aim.
"Apa yang mendorongmu datang ke sini pada saat seperti ini?" tanya beliau.
"Aku datang untuk menyatakan pengakuanku. Tidak ada Tuhan selain Allah dan seusungguhnya engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku mengakui agama yang engkau bawa sesungguhnya benar," jawab Nu'aim sungguh-sungguh.
Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!"
Rasulullah menjawab, "Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”
“Saya siap, wahai Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu'aim.
Setelah itu, Nu'aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.
"Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini.
Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu'aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.
Setelah itu, Nu'aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu'aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.
Mendengar penjelasan Nu'aim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”
Hal yang sama dilakukan juga oleh Nu'aim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu'aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.
Sementara itu, datanglah pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Nabi-Nya, berupa badai pasir yang meluluh-lantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti hewan tunggangan kaum Quraisy. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kabur ke negeri masing-masing dengan kekalahan yang memalukan.
“Dan Allah mengusir orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).
Demikianlah, strategi yang dilancarkan Nu'aim membuahkan hasil seperti yang diperkirakannya. Semenjak itu, Nu'aim bin Mas'ud menjadi Muslim yang taat dan pulang ke negerinya (Ghathafan) dan mulai berdakwah di sana.
Banyak orang-orang Ghathafan yang akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Nu'aim. Dan menjelang penaklukan Makkah, Nu'aim dengan segera berbaiat dan mengajukan pasukan dari Bani Ghathafan di bawah komandonya untuk mengabdi kepada Rasulullah dan membantu menaklukkan Kota Makkah. [Redaktur: Chairul Akhmad rep.com]
“ Nu’aim bin Mas’ud ”
REPUBLIKA.CO.ID, Pada masa mudanya, Nu'aim bin Mas'ud adalah seorang yang mahir dalam segala bidang. Ia terlahir dari sebuah keluarga saudagar yang cukup makmur di Nejed, kota kecil di pinggiran Makkah.
Nu'aim terlahir sebagai seorang suku Ghathafan dari keluarga yang terpandang. Di usia muda, ia cukup sering berdagang dari Makkah ke Madinah. Namun, dari kegiatan itulah ia pun menjadi tahu akan hal-hal yang menyangkut kemaksiatan dan kesenangan di kota itu.
Dengan pemahamannya yang cukup akan kesenangan yang ditawarkan Madinah, ia menjadi seorang yang cukup sering pergi ke kota itu demi mencari kesenangan dunia yang ditawarkan oleh kaum Yahudi di sana, terutama Bani Quraizhah. Oleh sebab itu, ia sangat dikenal oleh orang-orang di Madinah. Dan mereka pun menyukai Nu'aim.
Pada saat itu, Nu'aim tidak ambil pusing dengan dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Saat Rasulullah dan para sahabatnya memulai hijrah ke Madinah, barulah Nu'aim merasa terganggu dan terusik.
Ketika kaum Yahudi Bani Nadhiryakni kaum Yahudi dari sekitar Madinahmulai bergerak dan memprovokasi kaum Quraisy di Makkah dan di Nejed untuk memerangi Rasulullah dan pengikutnya di Madinah, dengan segera bani Ghathafan di Nejed menyambut baik usulan tersebut.
Saat itu, Nu'aim termasuk salah satu tokoh Bani Ghathafan yang ikut dalam pasukan Bani Ghathafan di bawah kepemimpinan Uyaynah bin Hishn Al-Ghethfan. Selain membujuk kaum Quraisy di Makkah dan Bani Ghathafan di Nejed, para Yahudi Bani Nadhir juga mengompori suku Yahudi yang tinggal di Madinah, yakni Bani Quraidzah.
Saat itu Bani Quraidzah menolak usulan Bani Nadhir, karena mereka terikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Namun, para pemimpin Bani Nadhir pandai merayu Bani Quraizhah agar membatalkan perjanjian tersebut secara sepihak. "Kali ini Muhammad pasti kalah," kata mereka. Bani Quraizhah pun manut saja.
Berita tentang datangnya ribuan pasukan dari arah Makkah dan tentang pemutusan perjanjian sepihak oleh Bani Quraidzah segera terdengar dengan cepat ke Madinah. Orang-orang munafik yang berada di tengah-tengah kaum Muslimin mulai membuka kedok.
Banyak dari mereka dengan terang-terangan meninggalkan Madinah dengan alasan takut akan hal buruk yang tiba-tiba menimpa keluarga mereka jika mendadak Bani Quraidzah menyerang. Sampai saat itu, jumlah kaum Muslimin yang siap mempertahankan Kota Madinah hanya sekitar 900 orang prajurit.
Sampai pada suatu malam, setelah kira-kira 20 hari dalam pengepungan, Rasulullah SAW berdoa, mengadu kepada Allah dengan sungguh-sungguh. “Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu sesuai dengan apa yang Engkau Janjikan.”
Sementara itu, jauh dari tempat Nabi SAW bermunajat, seorang tokoh Bani Ghathafan, Nu'aim bin Mas'ud, tengah berbaring dalam tendanya dengan gelisah. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran. Namun, dalam hatinya ia merasa bersalah.
"Sungguh, alangkah bodohnya diriku. Selama ini, hidupku dipenuhi dengan kesenangan yang menipu dan kegembiraan sesaat. Namun, mengapa kini aku melawan Muhammad yang katanya bisa mengajarkan kehidupan yang dipenuhi ketenteraman yang abadi? Bukankah aku tetap tidak ingin kembali ke kehidupanku yang sebelumnya?” Nu'aim mendapat hidayah Allah SWT.
Malam itu juga, ia memacu kudanya dan menuju ke dekat kota Madinah. Sesampainya di sana, ia meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah saw bukan sebagai musuh.
Ketika Rasulullah melihatnya Nu'aim berdiri di hadapannya, beliau bertanya, "Engkau Nu'aim bin Mas'ud?"
"Betul, wahai Rasulullah," jawab Nu'aim.
"Apa yang mendorongmu datang ke sini pada saat seperti ini?" tanya beliau.
"Aku datang untuk menyatakan pengakuanku. Tidak ada Tuhan selain Allah dan seusungguhnya engkau adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku mengakui agama yang engkau bawa sesungguhnya benar," jawab Nu'aim sungguh-sungguh.
Kemudian ia melanjutkan kata-katanya, "Wahai Rasulullah, sungguh aku telah benar-benar masuk Islam. Dan kaumku tidak mengetahui bahwa aku telah masuk Islam. Perintahkanlah kepadaku perintah apa saja yang dapat aku laksanakan!"
Rasulullah menjawab, "Engkau hanya seorang dari pihak kami, kembalilah kepada kaummu! Dan jika kamu sanggup, takut-takutilah mereka bahwa sesungguhnya mereka lemah dan kami kuat. Sesungguhnya perang itu adalah tipu daya.”
“Saya siap, wahai Rasulullah. Insya Allah engkau akan segera melihat sesuatu yang menggembirakan,” janji Nu'aim.
Setelah itu, Nu'aim segera berangkat menuju ke kubu Bani Quraidzah, yang telah menjadi sahabat baiknya sampai saat ini. Ia berhasil meyakinkan mereka untuk tidak dalam pertempuran melawan Rasulullah SAW.
"Jangan kalian bantu mereka (Quraiys) memerangi Muhammad sebelum kalian minta jaminan kepada kedua sekutu kalian itu, yakni pemuka-pemuka atau bangsawan-bangsawan terpandang dari mereka sebagai jaminan atas peperangan ini.
Sampai kalian memenangkan peperangan ini dan menguasai negeri ini, atau kalian mati bersama-sama dengan mereka,” saran Nu'aim. Bani Quraizhah pun menerima saran itu.
Setelah itu, Nu'aim segera beranjak menuju kubu Quraisy dan Ghathafan di luar Kota Madinah. Ia segera menemui pimpinan Quraisy, Abu Sufyan bin Harb, yang saat itu dikelilingi para pembesar Quraiys. Ia berhasil merayu mereka agar tidak melanjutkan serangan bersama. Nu'aim mengatakan bahwa Bani Quraizhah menyesal memutusan perjanjian dengan Muhammad SAW, dan malah mereka akan membantu Rasulullah menghadapi pasukan Ahzab.
Mendengar penjelasan Nu'aim, Abu Sufyan berkata, “Kau adalah sekutu kami yang baik. Semoga kamu mendapat balasan yang baik pula.”
Hal yang sama dilakukan juga oleh Nu'aim kepada Kaumnya, yakni Bani Ghathafan. Dan setelah yakin bahwa Pasukan Ahzab tidak akan melancarkan serangan apa pun kepada kaum Muslimin. Diam-diam Nu'aim pergi ke Madinah dan bergabung dengan pasukan Rasulullah.
Sementara itu, datanglah pertolongan Allah yang dijanjikan kepada Nabi-Nya, berupa badai pasir yang meluluh-lantakkan tenda-tenda dan menakut-nakuti hewan tunggangan kaum Quraisy. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan kabur ke negeri masing-masing dengan kekalahan yang memalukan.
“Dan Allah mengusir orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzab: 25).
Demikianlah, strategi yang dilancarkan Nu'aim membuahkan hasil seperti yang diperkirakannya. Semenjak itu, Nu'aim bin Mas'ud menjadi Muslim yang taat dan pulang ke negerinya (Ghathafan) dan mulai berdakwah di sana.
Banyak orang-orang Ghathafan yang akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Nu'aim. Dan menjelang penaklukan Makkah, Nu'aim dengan segera berbaiat dan mengajukan pasukan dari Bani Ghathafan di bawah komandonya untuk mengabdi kepada Rasulullah dan membantu menaklukkan Kota Makkah. [Redaktur: Chairul Akhmad rep.com]
SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur'an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan.
Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju'al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur'an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”
Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita para bapak untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.
Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat.
Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.
Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.
Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.
Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.
Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.
Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.
Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri.
Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak.
Ketika anaknya sudah menjadi orangtua. Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan.
Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.
Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.
Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan.
Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.
Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.
Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.
Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta'ala.
Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub).
Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak. Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo'akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo'a untuk kesuksesan karier orang tuanya.* [ Oleh: Mohammad Fauzil Adhim ]
SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur'an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan.
Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju'al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur'an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”
Kata-kata Umar bin Khaththab ini mengingatkan kepada kita para bapak untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.
Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat.
Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.
Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.
Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.
Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.
Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.
Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.
Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri.
Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak.
Ketika anaknya sudah menjadi orangtua. Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan.
Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.
Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.
Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan.
Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.
Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.
Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.
Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta'ala.
Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub).
Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak. Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo'akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo'a untuk kesuksesan karier orang tuanya.* [ Oleh: Mohammad Fauzil Adhim ]
MALAM dan siang sudah biasa kita lalui. Mungkin di antara kita ada yang menganggapnya biasa-biasa saja. Padahal malam adalah momentum sangat berharga bagi mereka yang menginginkan keridaan Allah SWT.
Bagi seorang Muslim malam memiliki dua manfaat yang tak terpisahkan. Yaitu sebagai momentum untuk beristirahat sekaligus sebagai momentum yang sangat istimewa untuk melebur dosa dan meraih ampunan dari Allah SWT.
Sayang, sebagian besar umat Islam mulai terbiasa dengan aktivitas begadang, khususnya generasi muda. Malam dihabiskan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, bahkan ada yang sampai lalai menjalankan sholat shubuh karena begadang semalaman.
Malam dan siang bagi mereka sama saja. Dua puluh empat jam digunakan untuk bersenang-senang, santai, dan bergembira ria. Hadirnya mentari kadang digunakan untuk tidur seharian, dan datangnya malam seringkali digunakan sekedar untuk menunggu pagi.
Padahal hidup ini bukanlah untuk foya-foya. Hadirnya siang dan malam dalam kehidupan ini Allah maksudkan agar kita menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur, mengisi waktu dengan jihad, menuntut ilmu, meningkatkan kualitas diri, beramal sholeh dan hal-hal lain yang mendatangkan rahmat dan keridoan-Nya.
Kini sudah saatnya kita menata diri, mengisi waktu dan memanfaatkan sisa umur kita untuk hidup lebih berarti, hidup penuh makna, dan hidup penuh kebahagiaan.
Satu di antara upaya yang mesti kita lakukan ialah mencontoh amalan Rasulullah saw ketika bertemu dengan malam. Dengan cara demikian, insya Allah hidup kita akan lebih punya makna.
Allah menjadikan malam agar manusia bisa beristirahat, memohon ampun dan mengingat-Nya dengan lebih baik lagi. Karena malam hari adalah waktu yang lebih hening dan lebih tepat untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, rasulullah saw tidak pernah tidur larut malam. Beliau bersegera untuk tidur begitu sholat Isya' telah dilaksanakan.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Sesungguhnya rasulullah saw membenci tidur sebelum isya' dan membenci obrolan setelah isya'.” (Muttafaqun Alaih).
Syeikh Nashiruddin Al-Albani menjelaskan bahwa boleh seorang Muslim tidak segera tidur setelah sholat Isya' dengan catatan yang diobrolkan adalah hal-hal yang positif, seperti mengulang-ulang pelajaran, menceritakan orang-orang sholeh, atau tentang akhlak mulia, bicara dengan tamu, dan lainnya. Demikian pula bila ada udzur atau keperluan mendadak yang bertepatan setelah sholat Isya'.
Namun demikian kegiatan atau obrolan setelah sholat Isya' itu jangan sampai melalaikan kewajiban lainnya. Seperti pemuda yang begadang di malam hari untuk mengulang-ulang pelajarannya, atau mempersiapkan diri menempuh ujian sampai akhir malam kemudian tidur kecapaian, akhirnya ia tertinggal sholat shubuh (berjama'ah) maka begadang semacam ini tidak boleh.
Keadaan demikian diumpamakan seperti orang yang hendak membangun istana tetapi pada saat yang sama tanpa disadari dirinya telah menghancurkan kota. Akan sangat baik jika segera tidur setelah sholat isya, dan segera bangun dini hari, sholat shubuh, kemudian belajar.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Umatku diberkati ketika mereka berpagi-pagi.”
Mengapa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar segera tidur setelah sholat Isya'?
Beliau ingin umatnya bangun di tengah malam mendirikan sholat tahajjud sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Dikisahkan dalam sebuah hadits, di tengah malam Rasulullah saw khusyuk dalam menjalankan sholat tahajjud hingga bengkak kedua telapak kakinya.
“Sesungguhnya dahulu Nabi benar-benar bangun untuk sholat hingga bengkak kedua telapak kakinya. Maka dikatakan kepada beliau; “Telah diampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.” Beliaupun berkata; “Tidak pantaskah aku menjadi seorang hamba yang pandai bersyukur?.” (HR Bukhari).
Tengah malam adalah momen terindah dan terdekat manusia dengan Allah SWT berkomunikasi. Dan sholat tahajjud adalah momentum yang sangat pas untuk kita mendapat ampunan Allah SWT dan meminta apapun dari Nya. Maka bangunlah untuk mendirikan sholat tahajjud lalu beristighfar kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.
Bahkan siapa yang mampu dan sungguh-sungguh mengisi malam harinya dengan taqarrub kepada Allah niscaya dia telah mencapai derajat taqwa yang telah Allah janjikan surga baginya.
Allah memberi janji dan keutamaan pada orang-orang yang bangun malam untuk bersujud dan menangis di hadapanNya.
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam syurga dan dekat dengan air yang mengalir. Sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.” ( Surah az-Zariat ayat 15-18).
Sungguh sangat luar biasa manfaat malam bagi seorang Muslim. Waktu yang akan melebur dosa dan mengundang berkah-Nya di pagi hari. Pantas dahulu para sahabat nabi berusaha membangun budaya intropeksi diri di tengah malam dengan memperbanyak istighfar.
Dalam salah satu atsar Sayyidina Ali ra menyatakan, “Aku heran dengan orang yang binasa padahal bersamanya ada penyelamat?” Ali pun ditanya, “Apakah penyelamat itu?” Ali menjawab, “Beristighfar.” Ketahuilah, lanjut Ali, “Allah tidak memberikan ilham kepada seorang hamba untuk beristighfar, jika memang, Dia ingin menyiksanya.”
Masihkah kita relakan malam berlalu hanya unutk melihat sinetron hingga larut malam atau sekedar duduk sambil tertawa bersama teman-teman sekedar untuk menanti siaran langsung sepak bola? Padahal tiada yang kita dapat selain lelah dan makin enggan untuk beribadah.
Mulai sekarang mari kita hidupkan malam-malam kita dengan aktivitas yang telah dicontohkan Nabi kita. Walahu a'lam.*/Imam Nawawi [rep]
Ibu sangat besar perannya dalam membentuk kecerdasan anak, sejak masih dalam kandungan sampai lahir. Ibu harus mengerti betul soal gizi buat dirinya maupun bayi yang telah lahir. Supaya bayi selain sehat juga bertumbuh tingkat kecerdasannya.
Otak terletak di dalam tengkorak yang berhubungan langsung dengan sumsum tulang belakang, serta membentuk suatu sistem saraf pusat. Dibandingkan dengan seluruh berat badan, berat otak hanya mencapai 2 3 persen.
Tetapi peranan otak sangat besar dalam kehidupan sehari hari. Meskipun beratnya sangat kecil, tetapi kebutuhannya akan oksigen dan glukosa, paling banyak dibandingkan dengan organ organ lainnya.
Pada orang dewasa, diperlukan 600 mililiter oksigen (25 persen dari total konsumsi oksigen oleh tubuh) dan 100 mililiter glukosa per menit. Kebutuhan sebanyak itu harus dibawa oleh satu liter darah (20 persen dari seluruh darah yang dikeluarkan jantung setiap menit) yang mengalir ke otak.
Terhentinya aliran darah selama tiga menit saja dapat mengakibatkan kerusakan sel otak, sedangkan aliran darah yang berhenti selama lebih dari sembilan menit akan mengakibatkan kematian.
Susunan otak sangat rumit, tetapi secara sederhana dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu otak besar (cerebrum) dan otak kecil (cerebellum). Otak besar merupakan 70 persen dari seluruh isi otak, serta bertanggungjawab terhadap tingkat kecerdasan dan kemampuan berpikir kita.
Dalam otak besar inilah, informasi yang diterima oleh organ penginderaan diolah, disimpulkan dan ditanggapi. Otak kecil bervolume kira kira 10 persen dari seluruh otak, berfungsi sebagai pengontrol koordinasi dan keseimbangan.
Tingkat Kecerdasan
Tingkat kecerdasan anak sangat ditentukan oleh keadaan otak dan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: sifat genetis, lingkungan (fasilitas, sosial ekonomi keluarga), motivasi dan status gizinya. Kepandaian seseorang dapat diukur dengan alat electro encephalogram (EEG), alat positron emission tomography (PET) dan tes IQ.
Otak yang cerdas, hanya memerlukan sedikit reaksi untuk memecahkan masalah. Sedangkan yang kurang cerdas, tampak akan mengerahkan hampir semua bagian otaknya untuk menjawab permasalahan yang sama.
Tes IQ sejak lama telah dipakai. Tes ini sebagai salah satu cara untuk menduga tingkat kecerdasan seseorang. Orang orang yang terkenal, terbukti memiliki IQ yang tinggi.
Perkembangan otak manusia dimulai sejak ia masih berupa janin di dalam kandungan. Oleh karena itu para ibu hamil dituntut untuk senantiasa menciptakan status gizi yang baik dan perawatan yang memadai, agar bayi yang kelak dilahirkan mengalami proses tumbuh kembang yang optimum.
Kekurangan Energi
Keadaan gizi ibu ibu hamil sangat erat hubungannya dengan berat badan bayi yang akan dilahirkan. Ibu ibu hamil adalah salah satu kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap masalah masalah gizi, terutama masalah kekurangan energi dan protein (KEP). Bayi yang dilahirkan oleh para ibu dengan kondisi KEP, akan mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu kurang dari 2,5 kg.
Kondisi BBLR akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan anak selanjutnya. Selain kekurangan gizi, bayi yang baru lahir tersebut juga akan mengalami kemunduran perkembangan otak. Hal ini akan berakibat terjadinya penurunan kemampuan belajar dan kemampuan akademik pada usia yang lebih lanjut. Selain itu, bayi BBLR mempunyai kemungkinan meninggal sebelum usia satu tahun, 17 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang dilahirkan dengan berat badan normal.
Kondisi KEP pada ibu ibu hamil, sudah barang tentu akan berpengaruh besar terhadap anatomi otak bayi yang kelak dilahirkan. Yaitu menyangkut berat otak, jumlah sel otak dan besar sel otak. Telah diketahui bahwa anatomi otak sangat berhubungan erat dengan tingkat kecerdasan anak di kemudian hari.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah konsumsi asam lemak tidak jenuh ganda rantai panjang (PUFA). Termasuk ke dalam kelompok PUFA adalah asam lemak Omega-3 dan asam lemak Omega-6.
Asam lemak Omega-3 yang umumnya terdapat pada lemak ikan laut, terdiri dari asam lemak linolenat, asam eikosapentanoat (eicosapentanoic acid = EPA) dan asam dokosaheksanoat (docosahexanoic acid = DHA), yang masing-masing terdiri dari 3,5 dan 6 buah ikatan rangkap. Asam lemak Omega-6 yang umumnya terdapat pada lemak biji-bijian, terdiri dari asam linolenat dan asam arakhidonat. Asam lemak Omega-3, khususnya DHA, telah diketahui sangat besar peranannya dalam perkembangan otak.
Sehingga keberadaannya sangat diperlukan pada masa pertumbuhan otak seseorang, yaitu sejak masa janin hingga usia 2 tahun setelah kelahiran.
Selain diperoleh dari ikan dan minyak ikan laut, saat ini beberapa industri pangan telah melakukan penambahan asam lemak DHA ke dalam susu untuk ibu hamil, maupun susu formula bayi. [Prof. DR. Made Astawan Dosen di Departemen TeknologiPangan dan Gizi-IPB]
Kata sedekah jariyah cukup akrab di telinga kita. Pengertian dari kata tersebut juga benar ; artinya suatu amal yang memiliki pahala secara berkesinambungan atau terus-menerus.
Hanya saja, jenis dari amal yang termasuk jariyah, sering kali dipersempit. Yang sangat jamak diketahui pembangunan masjid. Karena itu juga, sama sekali bukan berarti mengecilkan peran dan fungsi masjid, ummat bagai berlomba dalam membangunnya.
Memang masjid termasuk salah satu amal jariyah yang tak salah bila dikatakan sebagai prioritas pertama dan utama. Namun bila masjid telah terbangun, masih cukup banyak amal jariyah lain yang Insya Allah tak kalah pahalanya dengan masjid
Berikut ini beberapa amal sedekah yang termasuk jariyah (bentuk-bentuk amalan yang pahalanya tetap mengalir meski telah meninggal dunia), berdasarkan hadits-hadits Nabi SAW :
1. Mewariskan berbagai Mushaf
dan buku.
Anas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tujuh hal yamg pahalanya senantiasa mengalir bagi seseorang hamba saat berada dalam kuburnya, ”Orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan aliran air, menggali sumur (untuk umum), menananm pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan orang yang meninggalkan anak, yang senantiasa memintakan ampun baginya setelah meninggalnya,” (HR. AL-Baighaqi)
2. Menunjukkan kebaikan.
Abu Mas’ud Al-anshari RA berkata, “seseorang datang kepada Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku terlantar maka tunjukilah aku. ‘Rasullullah SAW menjawab, ‘aku tidak mendapatkan sesuatu untuk menunjukimu, tetapi datangilah fulan semoga ia mau menunjukimu.’
Kemudian, ia mendatanginya dan si fulan pun menunjukinya, lalu mendatangi Rasulullah dan mengabarkan kepada beliau. Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Barang siapa yang menunjukkan pada kebaikan maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya’.”
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersapda yang artinya: “Barangsiapa yang menyeru pada petunjuk (hidayah) maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Barangsiapa menyeru pada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka tersebut.” (HR. Muslim)
3. Menghidupkan dan menyebarkan sunah di masyarakat luas.
Amru bin ‘Auf Al-Muzanni RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunah di antara sunahku, kemudian orang-orang mengerjakannya, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan siapa saja yang berbuat kebid’ahan, kemudian orang-orang melakukanya, baginya seperti dosa orang yang telah, melakukannya tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang yang melakukannya itu.” (HR. Ibnu Majah)
Jabir Bin Abdullah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mencetuskan dalam Islam sebuah kebaikan, maka baginya pahala, dan pahala orang yang melakukannya setelahnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka, dan barangsiapa yang mencetuskan dalam islam sebuah kejelekan, maka baginya dosanya, dan dosa orang yang mengerjakannya setelahnya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim)
4. Memembangun rumah layak huni bagi fakir miskin dan tuna wiswa.
Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah telah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya, di antara amalan-amalan dan kebaikan-kebaikan yang menyusul seorang mukmin setelah meninggal, adalah ilmu yang telah ia sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan, mushaf Al-Quran yang telah ia wariskan, Masjid yang telah ia bangun, rumah yang ia telah bangun untuk anak gelandangan (musafir), sungai yang telah ia alirkan, shadaqah yang telah ia keluarkan dari hartanya dikala sehat dan hidupnya, itu semua akan menyusulnya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah)
5. Menggali kubur bagi orang yang telah meninggal.
Abu Rafi’ meriwayatkan bahwa Rasulluah Saw telah bersabda yang artinya: “Barangsiapa memandikan seorang Muslim, kemudian menyembunyikan aibnya yang ia ketahui, niscaya Allah akan memberikan ampunan baginya empat puluh kali, dan barangsiapa yang menggalikan kuburnya, kemudian menguburkannya, niscaya ia akan diberi pahala seperti pahala merumahkan orang miskin hingga hari kiamat. Barangsiapa mengkafaninya, niscaya Allah memakaikan baginya sutra halus yang hijau dan sutra tebal di Jannah.” (HR. Al-Baihaqi)
6. Menggali sumur untuk masyarakat dan mengalirkan sungai.
Jabir RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mengali sumur air, yang belum pernah diminum oleh jin maupun manusia serta burung, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya pada hari kiamat.” Sa’id bin Musayyib Ra berkata bahwa Sa’ad bin Ubadah RA mendatangi Rasulullah SAW seraya mengatakan, “Shadaqah apakah yang mengagumkan anda, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Air”.
7. Menanam pohon yang bermanfaat.
Jabir RA meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda yang artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan darinya menjadi sedekah(pahala) untuknya, apa yang dicuri darinya adalah sedekah, apa yang dimakan binatang juga sedekah baginya, apa yang dimakan burung adalah sedekah baginya dan tidaklah seseorang merusaknya, melainkan baginya sedekah.” (HR. Muslim)
Anas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya: “Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman kemudian dimakan oleh burung atau manusia atau hewan, kecuali baginya adalah sedekah (Pahala).” (HR. Bukhari)
Bila seseorang ditanya, mana yang lebih nyaman, tinggal di atas tanah atau di bawah tanah? Semua kita pasti akan menjawab pertanyaan ini dengan, lebih enak di atas tanah. Karena, siapa yang mau tinggal sendirian di bawah tanah alias di kubur?
Tetapi benarkah demikian? Bila merujuk ke kamus agama, bagi mereka yang bertakwa, kubur akan jauh lebih nyaman ketimbang dunia. Bahkan Rasulullah SAW menyebutnya dengan, “Taman dari taman-taman surga”.
Namun sebaliknya, bagi mereka yang kafir, atau muslim yang memiliki banyak dosa dan belum bertaubat, kubur merupakan tempat penantian yang sangat menyeramkan. Rasulullah SAW menyebutnya dengan, “jurang dari jurang-jurang neraka”.
Bagaimana hakekat kubur yang sebenarnya? Tak satupun dari kita yang dapat memastikan. Namun keterangan dari manusia yang dijamin kebenaran tutur katanya, Rasulullah SAW, setidaknya kita mendapatkan gambaran. Dan sedikit gambaran dari Beliau inilah, batas maksimal yang mampu kita pahami.
Dari keterangan Rasulullah SAW ini pula kita dapat memastikan, bahwa bagaimana kondisi kubur seseorang berpulang kepada orang itu sendiri. Dengan kata lain, bagaimana tempat tidur, penerangan, luas kamar dan teman kita kelak di dalam tanah, sesuai dengan bekal yang kita bawa.
Semua kita pasti tahu, apa yang harus dikerjakan agar kelak di kubur mempunyai tempat yang luas, terang, nyaman bak taman surga. Kita pasti juga tahu, bahwa kondisi yang menyeramkan; berbantalkan tanah, gelap, sempit bahkan tanah menghimpit, akan dialami oleh mereka yang berprilaku seperti apa saat hidupnya.
Sekalipun demikian, banyak dari manusia, termasuk kita, yang lalai dan lupa dengan itu semua. Bila kesadaran muncul sebelum datangnya kematian, maka kesadaran tersebut akan bermanfaat. Namun bila mendekati ajal, saat Allah menyingkap tabir yang selama ini menutupi pandangan, maka takkan bermanfaat lagi.
Dalam Al-Quran, Allah memperingatkan dengan firman-Nya, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q. S. 63; 10-11)
Dalam ayat lain Allah berfirman, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (Q. S. 23; 99-100)
Karena itu juga, tak ada yang mampu menjamin keselamatan seseorang dari dahsyatnya kubur, kecuali orang itu sendiri. Dan keselamatan akan didapat, bila diawali dengan kesadaran.
Yakni sadar, bahwa suatu saat kematian akan datang menjemput. Tak ada yang mampu menyelamatkan, kecuali bekal yang telah dipersiapkan. Dan sebaik-baik bekal, adalah takwa atau juga amal shalih.
Rasulullah SAW bersabda, “Teman dekat itu ada tiga. (Pertama) teman yang akan mengatakan, 'Aku akan bersamamu hingga ke pintu Al-Malik, kemudian aku akan meninggalkanmu'. Itulah keluarga.
(Kedua) Mereka yang mengantarmu hingga ke kubur, kemudian mereka pulang dan meninggalkanmu sendiri. (Lalu teman kedua ini) mengatakan, 'milikmu adalah apa yang telah kamu berikan, sedangkan apa yang masih kamu pegang bukanlah milikmu'. Itulah hartamu.
(Dan ketiga) adalah teman yang mengatakan, 'Aku akan bersamamu tatkala kamu masuk dan kamu keluar'. Itulah amalmu. Kemudian ia (si mayat) mengatakan, 'Demi Allah, kamulah yang paling aku anggap remeh diantara ketiga (teman lain)'”.
Seluruh harta yang dimiliki oleh si mayit akan diwariskan. Keluarga dan teman akan mengantarkan, namun hanya sebatas sampai di pemakaman. Sedang yang akan terus setia menemani, adalah amal.
Padahal, saat itu seseorang sudah tidak dapat dan tidak mampu lagi untuk beramal. Catatan amal bagai telah ditutup untuk selanjutnya kelak akan dipertanggungjawabkan.
Yang cukup istimewa, sekalipun jasad si mayat telah teronggok di kubur, terdapat beberapa amal yang pahalanya akan terus mengalir. Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bertutur, “Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga hal yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Hadits di atas telah sering kita dengar, dan pada dasarnya amal yang akan terus mengalir pahalanya, atau sedekah jariyah, bukan hanya tiga di atas. Dalam beberapa riwayat lain, Rasulullah SAW menerangkan mengenai beberapa sedekah jariyah. (lihat Macam-macam Jariyah)
Sekalipun demikian, tak tepat rasanya, bila seseorang mengandalkan sedekah jariyah, sementara bekal yang dibawa hanya sedikit. Yang paling aman dan kelak akan nyaman, seseorang yang membawa bekal banyak dan sekaligus memiliki sedekah jariyah.
Kondisi seperti inilah yang harus terus kita upayakan dalam mengisi hari-hari sisa usia kita. Semoga menjadi renungan kita semua. (Mhs)