Dengan Menyisihkan rizki anda Insya Allah :
Memperlancar pendidikan anak yatim atau kurang mampu. Membantu pengobatan kaum dhuafa. Menimbulkan semangat kerja. Membuat tersenyum para janda, memperlancar dakwah serta mensyiarkan Islam.
Salurkan bantuan, zakat, dan shadaqah Anda melalui rekening :
Kecintaan Allah kepada hamba-Nya, pada dasarnya tak terbantahkan dan tak diragukan lagi. Hanya saja, karena berbagai keterbatasannya, banyak manusia yang tak sadar bahkan mengingkari.
Sebagai makhluk dan hamba-Nya, manusia sudah sepantasnya untuk membalas cinta Allah. Dan Allah dalam Al-Quran mengingatkan, “Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q. S. 9; 24).
Di sisi lain, ada juga manusia yang mengklaim telah mencintai dan dicintai Allah, namun sepak terjang manusia tersebut belum mencerminkan manusia yang mencintai Allah. Saat beberapa orang datang kepada Nabi SAW dan mengatakan bahwa mereka mencintai Allah, Allah “menegur” dengan firmannya, “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (3; 31)
Seseorang yang benar-benar mencintai Allah, pasti ia akan mencintai Rasulullah (pesuruh Allah), Al-Quran (kalamullah), Masjid (baitullah), para kekasih Allah (auliyallah) dan lain-lain. Dan inilah bukti cinta seseorang kepada Allah.
Semua itu, merupakan saluran cinta yang bermuara kepada Allah. Kalaupun ia mencintai atau membenci sesuatu, semua juga didasari karena Allah. Dan mereka inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW, sebagai manusia yang akan mampu merasakan nikmatnya iman.
Mereka inilah yang akan mendapatkan “cinta plus” dari Allah, atau juga khusus. Allah mencintai hamba-Nya, namun bagi mereka yang membalas cinta Allah tersebut, akan mendapatkan tambahan cinta, kasih dan sayang dari-Nya.
Bahkan lebih dari itu, bagi mereka ini, seperti yang disabdakan Nabi SAW, “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi.”
Namun tidak demikian bagi mereka yang sebaliknya, yakni dibenci Allah. “Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi.”
Mereka yg dicintai
Yang penting untuk kita ketahui, siapa yang akan mendapatkan tambahan cinta dari Allah tersebut? Dan bagaimana cara meraihnya?
Dalam sebuah sabdanya Nabi SAW bertutur, “Barangsiapa ingin dicintai Allah dan rasulNya hendaklah dia berbicara benar (jujur), menepati amanat dan tidak mengganggu tetangganya.”
Selain hadits di atas dan beberapa hadits lain, Al-Quran juga menyebutkan kriteria mereka yang dicintai (plus tentunya) oleh Allah SWT, diantaranya:
a. Muhsinin (orang yang berbuat baik)
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Q. S. Al-Baqarah 195)
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q. S. Al-Imran; 134, al-Maaidah 13)
b. Tawwabiin muthathahiriin
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah 222)
“Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguh- nya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (Taubah 108)
c. Muttaquun
“Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (Taubah; 7)
“(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa”(Ali-Imran 76)
d. Shobiriin
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali imran; 146)
e. Mutawakkiliin
“Maka disebabkan rahmat dari Allah -lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. “(Al-Imran; 159)
f. Adil
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Mumtahanah; 8)
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (Maaidah; 42)
g. Perang
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Shaf; 4)
Yang perlu kita cermati, mereka yang dikatakan Al-Quran dan disabdakan Nabi SAW sebagai yang akan dicintai-Nya, juga berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia. Dengan kata lain, mereka bukan hanya melaksanakan ibadah ritual saja, namun menjalin hubungan baik dengan sesame manusia.
Mereka inilah yang cinta Allah dan dicintai Allah, dan inilah bukti kecintaan mereka kepada Allah. Naïf rasanya bila seseorang mengaku mencintai Allah, namun tak memiliki kepedulian kepada sesama.
Atau sebaliknya, kepedulian dan hubungan antar sesama manusia baik, namun hubungan dengan Allah tidak dijalankan. Keharmonisan dua hubungan baik inilah yang seharusnya terus kita asah dan upayakan, agar tumbuh di hati kita cinta kepada Allah, dan Allah menambah cinta-Nya kepada kita. Semoga. (Bujaffar)