Visitors Statistics

5
27
270596

Random Phoo Image

Random Phoo Image

Dengan Menyisihkan rizki anda Insya Allah :

Memperlancar pendidikan anak yatim atau kurang mampu. Membantu pengobatan kaum dhuafa. Menimbulkan semangat kerja. Membuat tersenyum para janda, memperlancar dakwah serta mensyiarkan Islam.

 

Salurkan bantuan, zakat, dan shadaqah Anda melalui rekening :

 

  1. Bank Central Asia (BCA) No: 015 148 6284 A/N Muhsin Al Jufri.
  2. Bank Syariah Mandiri (BSM) No: 012 002 8286 A/N Muhsin Aljufri QQ FOSMIL.

Lap. Merapi

“ Merapi Lagi “

Pembaca yang kami hormati, karena bertepatan dengan bencana Merapi, kami menyelipkan kisah perjalanan tim Fosmil dalam laput edisi ini. Sekaligus sebagai tambahan laporan pertanggungjajwaban amanat yang kami terima.

Sejak TV memberitakan mengenai aktifitas gunung merapi, beberapa relawan menghubungi sekretariat menyampaikan kesanggupan mereka untuk terjun ke lapangan. Namun karena pengalaman 2006, kami memutuskan belum akan mengirimkan bantuan atau juga relawan ke sana.

Letusan besar pertama yang terjadi pada Selasa, 26 Oktober, membuat kami merasa sudah saatnya untuk datang dan melihat kondisi secara langsung. Rabu malam, kami datang ke Kemalang, Klaten.

Kemalang, Klaten yang kami kunjungi, karena sejak erupsi 2006 yang lalu, walau sesekali, kami tetap menjalin hubungan dengan mereka. Dan sekalipun tidak ada bencana, Fosmil beberapa kali menyumbang air untuk wilayah di sekitar Merapi.

Malam itu, pemandangan yang kami lihat, jauh dengan yang ada di Sleman dan Jogja. Keputran dan Dompol yang menjadi pusat pengungsian terlihat sepi. Selain para pengungsi yang sudah tidur, jumlah mereka juga tidak banyak.

Kami terus naik hingga ke sebuah masjid yang terletak dekat tugu masuk ke arela wisata Deles. Masjid ini, 6 tahun yang lalu juga menjadi lokasi utama kami. Jarak masjid dari gunung sekitar 12 Km.

Setelah istirahat sejenak, kami ngobrol dengan kawan yang menjadi perantara selama ini. Dari informasi tersebut kami simpulkan, bahwa hingga hari itu wilayah Kemalang masih belum memerlukan bantuan. Dan menurut info kawan tersebut, bantuan yang masuk wajib melalui satkorlak.

“Bantuan kami hanya sedikit, tak “pantas” rasanya bila melalui satkorlak segala. Pada tahun 2006 yang lalu, kami membagikan sendiri bantuan kepada mereka yang berjaga di pos-pos penjagaan siskamling”, kami menjelaskan kepada kawan yang memang pada 2006 yang lalu tidak terlibat dengan Fosmil.

Keterangan inipun tak merubah pendiriannya, bahwa sebaiknya bantuan mengikuti prosedur yang ada. Info ini membuat kami mengurungkan niat untuk membagi bantuan yang sebenarnya telah kami siapkan di mobil.

Sabtu, 30 Oktober, kawan dari merapi menghubungi dan menginformasikan, bahwa setelah melihat perkembangan yang ada, mereka merasa cara penyaluran dengan langsung lebih tepat. Malam itu juga kami berangkat kembali ke Merapi.

Seperti pada 2006, kami naik menuju pos-pos keamanan yang dijaga oleh penduduk setempat. Bantuan yang kami bawa, diantaranya; lampu senter, makanan dan minuman ringan, obat-obatan, penutup kepala, masker dll. Malam itu, kami naik hingga desa-desa di atas, termasuk sebuah tempat pemantauan.

Cukup banyak penduduk yang masih bertahan, tidak turut mengungsi, terutama kaum pria dan pemuda. Mereka tidur di pos-pos penjagaan dan di halaman rumah. Rata-rata mobil, truk dan kendaraan mereka stan by di halaman, hingga bila sewaktu-waktu bahaya mengancam dapat langsung ke pengungsian.

Pemilihan bentuk penyaluran bantuan seperti ini, bukan berarti kami sok pahlawan, menantang maut dan sejenisnya. Kami hanya ingin membawa bantuan dan sasaran setepat mungkin. Prinsip inilah yang berusaha kami pegang.


Minggu, 31 Oktober

Sistem pembagian seperti di atas, kami lakukan lagi keesokan malamnya, Minggu, 31 Oktober. Malam itu kami masuk ke wilayah yang cukup tinggi, sekitar 10-7 Km dari puncak. Kami naik, karena di atas masih cukup banyak penjaga keamanan dan sebagian penduduk, termasuk wanita dan anak-anak.

Bantuan yang kami salurkan, masih sama dengan sebelumnya; obat-obatan ringan, lampu senter, makanan-minuman ringan dan sejenisnya. Dan dengan kondisi yang ada, kami belum memutuskan perlu membuka posko bantuan untuk merapi.

Sekalipun tidak membuka posko, bukan berarti kami menolak bantuan yang masuk. Bantuan yang telah kami salurkan, semuanya juga dari para donatur. Berdasarkan pengalaman, kami khawatir bila dibuka posko, bantuan yang masuk banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

Sampai malam itu, pengungsi untuk wilayah Klaten dapat dikatakan belum banyak. Tiga tempat pengungsian; Keputran, Dompol dan Bawukan, terlihat masih cukup lengang.


Rabu, 3 Nopember

Dua hari berikutnya kami tak mengunjungi merapi, namun terus berkomunikasi sambil melihat perkembangan. Dan memang saat kami terakhir ke sana, tepatnya malam Senin, sekitar pukul 23.00, beredar kabar bahwa desa tempat kunjungan kami harus dikosongkan.

Tlogo Watu, demikian nama desa yang kami kunjungi. Mendengar kabar tersebut, kami beserta warga yang belum mengungsi turun mencari tempat yang aman, sekitar 12 Km dari puncak Merapi. Malam itu tak terjajdi letusan, namun keesokan harinya terjadi berkali-kali letusan dalam skala yang cukup besar.

Dan saat kami datang pada Rabu, 3 Nopember, keadaan telah berubah secara drastis. Desa yang dua hari lalu menjadi tempat pengungsian, telah ditutup dan dinyatakan rawan. Tempat pengungsian juga telah penuh, bahkan meluber hingga ke jalan, truk dan rumah-rumah warga. Semua ini karena imbas perluasan daerah aman, yang sebelumnya 10 Km, diperluas menjadi 15 Km.

Malam itu kami cukup “puas”, karena dapat menyalurkan bantuan yang langsung disambut gembira dan dibutuhkan mereka. Bantuan yang kami bawa juga lebih komplit dari sebelumnya, karena termasuk selimut dewasa, selimut bayi, susu dll.


Kamis, 4 Nopember

Hari itu, sebenarnya kami berencana akan mengumpulkan bantuan terlebih dahulu, baru akan berangkat di hari jum'at atau Sabtu. Namun kabar dari kawan yang menyebutkan bahwa bantuan sangat diharapkan, membuat kami berangkat juga, sekalipun waktu menunjukkan pukul 21.30.

Rombongan Fosmil sampai di pengungsian Dompol sekitar pukul 23.00.  Setelah melakukan koordinasi dengan kawan dan beberapa pemuda setempat, kami memutuskan akan terus naik ke atas, untuk memberikan bantuan kepada mereka para penjaga keamanan dan sebagian warga yang masih bertahan.

Dalam perjalanan, kami menyaksikan tempat pengungsian yang tambah membludak, mayoritas penduduk juga telah mengungsi. Bahkan kami juga menyaksikan, serombongan tentara yang terus naik untuk “memaksa” penduduk untuk mengungsi.

Entah bersumber dari mana informasinya, yang jelas kawan kami yang bermukim sekitar 13 Km dari Merapi berkata, “Menurut informasi, malam ini nanti sekitar jam 12 akan ada letusan besar, waktu kita masih ada 40 menit sebelum jam 12”, ucapnya sambil terus menghubungi beberapa penduduk yang masih bertahan di rumah untuk segera turun.

Setelah berhenti dan mengontrol sejenak dengan beberapa warga yang bertugas menjaga keamanan, kami menyerahkan sedikit bantuan. Setelah itu mobil berbelok ke kiri masuk ke desa untuk menemui warga lain yang bertugas sebagai keamanan dan belum mengungsi.

Mobil berhenti sejenak di sebuah rumah. Jarum jam di mobil menunjukkan pukul 23.40. Kawan kami tadi turun di ujung kampung sambil berteriak-teriak memerintahkan warga untuk mengungsi. Sebagaian rombongan menunggu di dalam mobil.

Suasana semakin gelap, selain karena banyak lampu yang dipadamkan, debu juga semakin lebat. Berbarengan dengan itu, bau belerang juga semakin menyengat. Rombongan mulai “mencium” gelagat alam yang tidak beres.

Entah karena apa, mesin mobil yang tadinya dalam posisi hidup dimatikan. Berbarengan dengan itu, rombongan mendengar secara jelas suara sirene yang menandakan bahaya akan datangnya awan panas. Kawan kami berteriak makin keras, “Sirenene muni, sirenene muni cepet-cepet (sirenenya sudah berbunyi, cepat-cepat)”.

Tanpa menunggu penduduk, kami langsung tancap gas menyelamatkan diri. Sekitar 2 Km dari lokasi tadi, terdapat tempat pengungsian. Kami menurunkan bantuan, sekaligus juga memberitahukan akan adanya bahaya.

Tak lama setelah itu kami berjalan lagi menjauh hingga di tempat pengungsian, Balai Desa Jiwan. Dari tempat ini kami mendengar secara jelas suara Merapi yang membuat ribuan pengungsi terbangun dan langsung mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Mobil, kendaraan, truk semuanya mengarah ke bawah. Tangisan anak yang terkejut karena bangun di dini hari dan terkena terpaan angin gunung, bayi-bayi mungil yang didekap ibunya, para orang tua yang hanya diam menjadi pemandangan yang sungguh tak kami bayangkan sebelumnya.

Kami berhenti sekitar 15 menit di perempatan Jiwan. Sebagian besar pengungsi kocar-kacir ke arah yang berbeda-beda, namun sebagian kecil masih bertahan di balai desa Jiwan. Kami tak tahu arah gunung, arah evakuasi, maupun jarak lokasi berhenti dengan Merapi, yang jelas suara dentuman bertautan tiada henti.

Setelah memberikan sedikit bantuan kepada para ibu, anak-anak dan para orang tua, kami mengikuti arus pengungsi yang mengungsi lagi. Ternyata sebagian dari mereka menuju lapangan di Desa Gemampir. Kami berhenti di jalan masuk menuju lapangan.

Lalu lintas terlihat sangat ramai. Sebagian pengungsi masuk ke lapangan, namun sebagian yang tadinya telah di lapangan keluar menuju pengungsian lain. Kondisi kacau seperti ini berjalan lebih dari 15 menit. Suasana semakin mencekam, karena sebagian penduduk Gemampir sendiri, terutama para ibu dan anak-anak langsung ikutan mengungsi.

Dari Gemampir suara letusan Merapi malam itu masih terdengar cukup jelas, dan suara itulah yang menjadi sumber kepanikan warga. Saat itu kami mendengar, bahwa radius aman diperluas menjadi 20 Km. Dan saat kami menanyakan jarak desa ke Merapi, mereka mengatakan, “Sekitar 23 Km”.

Karena informasi jarak yang cukup aman, kami ikut menenangkan warga agar tak mengungsi ke tempat lain. Bantuan yang kami bawa malam itu, bagai dagangan yang “laris manis”. Masker, air, teh ludes, bukan kami berikan, tetapi diminta oleh mereka yang lewat.


Sekitar pukul 1 dini hari, Jumat 5 Nopember, kami masih di Gemampir. Suara gemuruh masih terdengar, namun suasana mulai terkendali. Setelah beristirahat sambil melihat-lihat kondisi yang ada, kami juga membagikan sedikit bantuan kepada para pengungsi yang menempati sekolah di samping lapangan.

Sekitar pukul 1.30, rombongan kembali menuju Solo. Dan karena perubahan kondisi seperti yang kami saksikan sendiri, Fosmil memutuskan akan membuka posko bantuan di Klaten.


Jumat, 5 Nopember

Jumat siang kami mengontak kawan di Klaten untuk mencari rumah yang dapat difungsikan sebagai posko. Dan selepas maghrib, kami kembali ke Klaten. Rumah yang dipilih oleh kawan kami besar, dan dipersilahkan untuk memakainya, namun jarak rumah tersebut dengan barak pengungsian sekitar 300 meter.

Saat menuju rumah tersebut, kami juga diantar oleh bapak yang sejak semalam menemani kami, halaman rumah beliau menjadi parkir mobil rombongan Fosmil. Mengetahui tujuan kami melihat rumah yang akhirnya tidak cocok ini, beliau mempersilahkan rumahnya untuk dijadikan posko.

Bapak Sugimo, demikian nama bapak yang bersedia meminjamkan rumahnya tersebut. Kami kembali ke rumah Bp. Sugimo dan melihat kondisi rumahnya. Karena izin beliau, jarak dengan barak pengungsi hanya 100 meter dan rumah tersebut terhitung bagus untuk sebuah posko, malam itu juga kami resmi meminjamnya.

Kami langsung membagi tugas. Sebagian relawan akan mengerjakan kamar mandi dan WC di rumah Bp. Sugimo. Bila “pembangunan” tahap ini selesai, akan dilanjutkan dengan kamar mandi di masjid yang berlokasi di depan lapangan. Dan setelah itu, menurut rencana, kami akan membuat kamar mandi darurat di sekitar lapangan.

Sebagian relawan yang lain, akan bertugas mengangkut barang dari sekretariat Fosmil menuju posko Gemampir. Mereka juga akan menata dan mendistribusikan bantuan. Termasuk menyiapkan sarana pra sarana bagi pengobatan yang akan dimulai sore harinya.


Sabtu, 6 Nopember

Sabtu, sekitar pukul 9 pagi berangkat 5 relawan dengan tugas memasang kloset dan sedikit “merenovasi” kamar mandi yang berlokasi di Posko Gemampir. Dan Alhamdulillah, sore itu juga kamar mandi sudah dapat difungsikan, sekalipun hanya darurat.

Tugas lain relawan, membawa sarana pra sarana yang berhubungan dengan medis, sekaligus membersihkan dan menyiapkan tempat. Kursi, tempat tidur dan tentu saja obat semuanya telah disiapkan.Karena sebagian relawan datang dengan mengendarai kendaraan roda 2, mereka dapat berkeliling sambil melihat situasi di sekeliling posko. Dengan kendaraan itu pula mereka membeli berbagai keperluan bangunan, termasuk keperluan logistik bagi relawan sendiri.

Sore hari, di tengah hujan datang tim relawan beserta tim dokter. Karena cuaca hujan, terpaksa tim dokter mendatangi tempat pengungsian dan mengadakan pemeriksaan di sebuah ruangan kecil, yang sebelumnya telah difungsikan sebagai “klinik”.

Saat tim medis mengadakan pemeriksaan, sebagian relawan mengatur barang bantuan yang akan dibagi. Saat itu kami juga “rapat” merencanakan beberapa hal yang akan dilakukan dalam 2-3 hari ke depan.

Kamar mandi di posko, yang semula 1, ditambah menjadi 2. semua ini bukan membangun dari awal, tetapi hanya menyempurnakan bangunan yang telah ada; dengan kloset, pintu, lampu dan lain-lain.

Khusus mengenai kamar mandi, bila kedua jadi sekali, besok akan di lanjut dengan kamar mandi di masjid. Dan setelah itu, direncanakan akan membuat kamar mandi daraurat di lapangan.

Menegenai bantuan, kami merencanakan akan ditambah dengan pembuatan dapur umum.  Makanan juga direncanakan dengan menu yang lain dan bergizi; telur, abon, ragi, kecap dll. Yang tak kalah penting alat-alat kebersihan; sapu, keset, obat nyamuk, tempat sampah dan sejenisnya.

Pukul 22.00 kami meninggalkan posko bersama tim medis dan beberapa relawan, dengan rencana kerja keesokan harinya yang telah dirapatkan tadi. Untuk memantau keadaan dan memperlancar kerja, dua relawan menginap di posko, kediaman Bp. Sugimo.


Minggu, 7 Nopember

Minggu pagi, beberapa relawan telah bekerja sesuai tugas mereka. Namun sekitar pukul 12, kami mendapat kabar yang cukup mengangetkan. Wilayah Gemampir akan dikosongkan, karena termasuk wilayah yang tidak aman.

Menurut keterangan petugas, bila diukur dengan jalan beraspal, memang jarak dengan merapi lebih dari 20 Km. Namun bila ditarik garis lurus, konon hanya sekitar 13 Km. Keterangan ini yang membuat pengungsi kembali panik dan akan dipindah ke tempat yang lebih aman.

Perubahan ini, tentu saja membuyarkan seluruh rencana yang telah dibicarakan semalam. Mendengar kabar ini, kami memerintahkan relawan untuk membantu evakuausi warga, terus menyelesaikan renovasi kamar mandi dan mengeluarkan barang yang berada di posko.

Sore hari saat tim medis datang, seluruh pengungsi telah meninggalkan pengungsian. Kami menyasikan truk marinir hilir mudik menyisir warga yang belum mengungsi. Bp. Sugimo beserta seluruh keluarganya juga telah bersiap meninggalkan rumah.

Bantuan yang sekiranya penting kami angkut ke dalam mobil dan tak lama setelah itu meninggalkan posko Gemampir yang telah sepi, termasuk penduduk sekitar. Kami turun tanpa tujuan, sambil terus mencari informasi perkembangan terkini.

Karena seorang relawan masih pergi mengikuti arah kepindahan pengungsi, akhirnya kami berhenti di perempatan Karang Nongko, sekitar 3 Km dari posko Gemampir, untuk menunggu kedatangannya. Dan Alhamdulillah, karena menunggu inilah akhirnya kami menemukan “posko” baru.

Karena cuaca yang mendung, relawan mencari rumah penduduk yang sekiranya dapat dijadikan tempat untuk berteduh. Dan saat mencari lokasi tersebut, ternyata 200 meter dari perempatan, terdapat tempat pengungsian di rumah penduduk. Jumlah pengungsi sekitar 150 jiwa, mereka berasal dari daerah Manisrenggo.

Yang cukup “menggembirakan”, karena mereka pengungsi skala kecil, belum ada tim medis yang datang. Karena itu juga, tim medis langsung turun dan melakukan pemeriksaan. Tuan rumah yang kedatangan tamu pengungsi juga menyambut gembira. Beliau mempersilahkan sisa ruangan yang ada untuk pemeriksaan dan menaruh barang bantuan.

Jarak, jumlah pengungsi yang tidak banyak membuat kami merasa pas untuk fokus kepada mereka. Keputusan ini kami anggap sangat tepat, lebih-lebih bila mengingat pengungsi dan tuan rumah yang antusias dan langsung bersikap kekeluargaan dengan kami.


Senin 8 Nopember 10

Dengan perubahan ini, selain bantuan umum yang kami salurkan, kepada mereka kami menawarkan bantuan apapun yang mereka butuhkan. Dan benar, mereka justru membutuhkan berbagai jenis bahan untuk memasak.

Hari itu kami datang dengan kompor gas, berikut gasnya tentunya, peralatan memasak dan berbagai barang belanjaan; wortel, kobis, kacang panjang, gula jawa, kentang, rambak dll, sesuai keinginan mereka.

Yang tak kalah penting, karpet, obat nyamuk, dispenser, tremos dan barang-barang lain yang statusnya kami pinjamkan.

Selain di Karangnongko, kami juga menemukan pengungsi lain yang berlokasi di atas, sekitar 4 Km dari Karangnongko. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar 500 orang yang menempati Balai Desa Jiwan. Para pengungsi ini, mayoritas warga Tlogowatu, sekitar 5 Km di atas tempat pengungsian mereka.

Tempat pengungsian di Jiwan ini tergolong “mbalelo” (membandel), karena saat marinir datang di hari Minggu, mereka tak mau pindah. Mungkin karena alasan itu juga, pihak pemerintah tak mensuplai bantuan kepada mereka, demikian informasi yang kami dapat dari sebagian pengungsi.

Kami datang ke Jiwan, bukan karena nekat atau juga asal membantu. Pertimbangan kami, agar perjalanan dan distribusi bantuan lebih efektif dan tepat sasaran. Termasuk tim medis yang biasanya berangkat pukul 15.00 dari Solo.

Karena pertimbangan di atas pula, maka keesokan harinya, Selasa kami tak mendatangi mereka.


Rabu-Minggu

Dengan jadwal yang mulai 2 hari sekali, jumlah pasien semakin banyak, termasuk pengungsi yang berlokasi di Jiwan. Bantuan yang kami salurkan ke jiwan, juga tak beda jauh dengan yang di Karangnongko, sesuai kebutuhan mereka.

Dan hari itu, keadaan pengugsi di Jiwan relatif “makmur”. Perubahan ini mungkin karena dua hari sebelumnya, keadaan mereka yang minus bantuan sempat diberitakan di detik.com. Dan saat kami ke sana, sering kali bertemu dengan para penyumbang yang datang sendiri ke lokasi.

Kamis, 11 Nopember, beberapa relawan tanpa tim medis mendatangi wilayah yang sama. Selain mendistribusikan bantuan, kedatangan mereka sekaligus untuk memantau secara langsung perkembangan keadaan yang ada.

Keesokan harinya, para pengungsi yang berlokasi di Karangnongko kembali ke rumah mereka. Hari itu beberapa relawan berangkat untuk mendistribusikan bantuan, dan mengemasi barang yang berada di posko Karangnongko.

Dengan kepulangan pengungsi ini, dan juga perkembangan secara umum yang ada, kami mulai terpikir untuk menutup posko. Dan rencana tersebut kami pastikan setelah di hari Sabtu, kami berkeliling menyaksikan sendiri kondisi, hingga ke wilayah yang masih dinyatakan bahaya.

Penutupan posko ini, bukan berarti seluruh bantuan telah kami salurkan. Sisa dan berbagai perlengkapan kami titipkan di posko Gemampir, dan hubungan dengan beberapa teman yang berlokasi di Klaten juga intensif kami lakukan.

Penutupan posko ini, juga berhubungan dengan datangnya Idul Adha, karena sejak Senin kami sibuk menyiapkan pelaksanaan qorban. Dan sesuai dengan amanat sebagian donatur, kami juga mengirimkan beberapa ekor kambing korban ke para pengungsi Merapi.

Sekalipun daerah yang kami kunjungi hanya Klaten, dan bantuan kami juga terfokus ke sana, namun sebagian menyebar ke semua wilayah; Boyolali, Sleman dan Magelang. Hal ini semata-mata agar lebih tepat dalam pendistribusiannya. Dan untuk wilayah Klaten kami anggap sudah cukup, hingga wilayah lain sangat mungkin masih membutuhkan.

Sejak resmi membuka posko di Klaten, di sekretariat kami tak memasang spanduk posko. Dan melalui media silaturrahmi ini, kami ingin menjelaskan beberapa alasan tersebut.

Keputusan membuka posko, dapat dikatakan mendadak dan untuk menjawab situasi. Berdasarkan pengalaman, bila membuka posko secara resmi, sebagian bantuan yang masuk berupa barang, yang pada dasarnya kurang dibutuhkan pengungsi. Misalnya; air, supermi, pakaian pantas pakai, nasi bungkus dan sejenisnya.

Bantuan yang masuk, merupakan amanat yang wajib kami sampaikan. Dan maaf, sekali lagi maaf, kami yang melihat langsung keadaan mereka, menyaksikan sendiri bagaimana “mubadzirnya” sebagian sumbangan.

Karena itu juga, kami memberanikan diri untuk menyampaikan, “Maaf, bantuannya dalam bentuk uang saja”. Sekalipun nantinya, mungkin dibelikan air dan sebagian barang di atas, namun benar-benar kami pastikan dibutuhkan mereka.

Sekalipun dengan cara ini, tetap pasti ada juga bantuan yang kurang manfaat bagi mereka. Namun setidaknya kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk “memenuhi” kebutuhan mereka. Karena alasan ini juga, sebagian bantuan Fosmil mungkin dianggap aneh, seperti: sapu, keset, obat nyamuk (semprot), keranjang sampah, sikat gigi, abon, ragi (serundeng), obat-obatan bebas (paramek, bodrek dll), koyok,  bahkan jamu yang cukup laris bagi para pengungsi.

 

Perkembangan terakhir

Dengan kepulangan pengungsi ke rumah mereka, bantuan yang kami salurkan berubah jenis dan cara penyaluran. Bantuan yang kami salurkan berupa paket yang berisi beras sekitar 2,5 Kg, gula pasir ½ kg, sarung dan satu dos susu.

Hingga laporan ini kami sampaikan, akhir Nopember, Fosmil telah menyalurkan sekitar 500 paket. Bantuan ini kami salurkan secara laangsung kepada masing-masing RT para mantan pengungsi di wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten.

Selain paket di atas, Fosmil juga membantu penyedian air bersih dengan membeli dan menyalurkan kepada penduduk. Sekedar informmasi, tidak ada bencana erupsi pun, sebagaian daerah membutuhkan air bersih. Daftar donatur dan bantuan yang telah kami terima dapat anda lihat di Laporan Donatur Merapi.